Your Stories

This page will feature the selected short story, poem, or article of the month along with its English translation.

Bilingual writers, we would appreciate your help with the translation of Indonesian work into English. Please contact us at dalangpublishing@gmail.com

Please adhere to the following maximum word limits:

Short story – 3000 words.
Poem – 500 words / poem – please submit 5 poems on individual pages.
Article – 2000 words.

Please follow our Writer’s Guidelines for formatting and other submission directions.


Gusti, Doa Siapa Yang Akan Kaudengar?

Junaedi Setiyono was born in Kebumen, Central Java, on December 16, 1965.

Setiyono is drawn to historical fiction related to the Java War (1825-1830). He is the author of three award winning novels. Glonggong, (Serambi, 2007), Arumdalu (Serambi, 2010), and Dasamuka, (Penerbit Ombak, 2017). Setiyono was also awarded a scholarship from Ohio State University as part of his doctorate degree in language education, which he received in 2016 from the Semarang State University. The English translation of Dasamuka by Maya Denisa Saputra will be forthcoming from Dalang Publishing under the same title in May 2017.

He can be contacted via his email address: junaedi.setiyono@yahoo.co.id

Copyright:
Copyright ©2017 Junaedi Setiyono. Published with permission from the author. Translation copyright ©2017 by Maya Denisa Saputra.

***

 

 Gusti, Doa Siapa Yang Akan Kaudengar?

 

Mas Agung adalah kakak tertua kami. Sepeninggal Bapak, Mas Agung menjadi pengganti Bapak. Ibu senang bahwa kami, tujuh bersaudara, tetap rukun seperti halnya pada saat Bapak masih ada. Tentu hal itu tidak lepas dari kepemimpinan Mas Agung. Maka ketika kakaknya Ibu, Budhe Mujirah, mendapat masalah, dan aku tidak sanggup membantu menyelesaikan masalahnya, tidak bisa tidak tumpuan kami ada pada Mas Agung.

Ya, aku pun menulis surat untuknya.

***

Purworejo, 10 Maret 2005

Mas Agung yang baik,
Bila tidak karena Budhe Mujirah, aku tidak akan menulis surat ini, Mas. Sebenarnya sudah sejak sepekan yang lalu beliau memintaku untuk mengirimimu surat, tapi baru kali ini aku bisa. Bukan karena sibuk tetapi karena aku harus menata hati terlebih dulu. Ya, ini tentang langgar kita.

Sejak Bapak wafat, aku memang tidak terlalu memperhatikan apa yang sudah dilakukan warga pada surau yang didirikan eyang buyut kita itu. Dan, kurangnya perhatian yang kuberikan adalah karena tampaknya keluarga kita semua setuju, bahkan merasa senang, dengan apa yang telah dilakukan warga terhadap langgar Eyang. Pernah kukatakan padamu kalau sikapku itu, selain karena Mas dan adik-adik semua sudah setuju, juga karena kesadaran betapa kita tidak bisa apa-apa. Selain itu, juga mungkin kita semua punya kekhawatiran bakalan dicap oleh warga kampung sebagai orang yang tidak setia pada agamanya.

Aku memang setuju-setuju saja pada rencana warga yang dipimpin oleh Pak Lurah, yang juga Pak Kiai kita, untuk memugar langgar yang sudah berdiri jauh sebelum negeri kita merdeka. Kita sendiri waktu itu terlalu miskin untuk memperbaiki langgar kita; untuk agak menutupi kemiskinan kita, biasanya kau menyamarkannya dengan bilang pada Pak Lurah kalau kita harus mendahulukan mana yang lebih penting. Paling-paling kita menjaga supaya atapnya tidak bocor dan rayap – yang mampu menembus lantai tegel – tidak naik merambati dinding menghabisi usuk dan reng; setahun sekali kita kapur temboknya, dan sekitar sepuluh tahun sekali kita cat semua kayu-kayunya. Ya, seingatku cuma itu.

Dana keluarga kita memang sudah habis untuk biaya kuliah kita tujuh bersaudara. Ibu memang menghendaki kita semua menjadi orang terpelajar, menjadi sarjana. Kita anggap dana itu sudah habis, karena selain menyekolahkan kita, Ibu harus selalu memiliki uang simpanan untuk biaya perawatan kesehatan Ibu sendiri; apa lagi, sekarang Ibu makin mudah sakit.

Maka ketika Pak Kiai rawuh ke tempat kita dan minta izin untuk mengganti genting kuno itu dengan genting pres sokka, kita semua setuju dan berkali-kali mengucapkan terima kasih. Genting kuno itu memang sebagian sudah kita ganti dengan genting yang lebih baru. Namun, genting yang lebih baru itu ukurannya tidak sama dengan genting yang dulu dipasang oleh Eyang. Dengan bermacam-macam jenis genting yang kita pasang untuk mengganti genting lama yang sudah aus atau pecah tentu berakibat kurang baik. Kalau hujannya deras akan tempias, dan menyebabkan para jamaah sesekali mengusap wajahnya karena risi kena kepyuran air dari atap.

Kebanyakan dari kita memang tinggal dan bekerja di Jakarta. Saudara-saudara sekandung kita lainnya tidak ada satu pun yang tinggal bersama Ibu menjaga langgar kita di Purworejo, kota tempat kita semua dilahirkan. Ada yang melanjutkan belajar, ada yang bekerja setelah menyelesaikan kuliah. Karena kita bertujuh hidup berpencar di berbagai kota, kita pun sepakat patungan untuk membayar tetangga terdekat agar menemani Ibu. Dan, untung ada Budhe Mujirah yang tinggal tidak jauh dari Ibu.

Maka kita maklumi saja kalau akhirnya warga memperbaiki langgar tanpa sepengetahuan kita karena mungkin mereka telah berusaha mencari tapi tak berhasil menemui kita. Dan Ibu, kita sudah tahu persis sifatnya, pasti hanya akan mengatakan: sumangga kula nderek, silakan saja saya setuju.

Untuk itulah atas usulku ketika itu: bagaimana kalau langgar itu kita wakafkan saja. Karena pada kenyataanya langgar itu memang sudah menjadi milik warga, bukan lagi milik keluarga kita. Dan, kau dan adik-adik setuju. Kita berdua lalu mengurus surat-suratnya hingga terbit surat bukti kepemilikan tanah. Ya, urusan itu selesai dengan melegakan. Ini sungguh menenteramkan karena kita merasa sudah menyenangkan hati Ibu. Ingat ‘kan kalau Ibu sering membisiki mengingatkan kita, bahwa kita ini “jelek-jelek” masih termasuk trah kesuma rembesing madu? Suatu trah yang salah satu cirinya adalah memegang teguh pituduh putra becik nyirami mring kulawarga, anak yang baik menyiram kebaikan kepada keluarganya.

Sekitar lima tahun yang lalu, kita sepakati pulang menjelang hari raya Idul Fitri dan kembali ke tempat kerja setelah shalat Ied. Namun, setelah Bapak berpulang ke rahmatullah, pada Juni 2002 yang lalu, Ibu menasihati kita untuk tidak harus pulang bersama-sama menjelang Lebaran. Ibu katakan, “Kepulanganmu itu lebih banyak mudharatnya daripada manfaatnya.”

Aku diam-diam berterima kasih atas usul Ibu itu karena memang kupikir beliau benar. Tapi tentu saja kurang baik kalau hal itu yang mengusulkannya adalah kita, anak-anaknya. Maka kita sepakat untuk pulang menjenguk Ibu pada hari ulang tahun kita masing-masing dan merayakannya – istilah Ibu, mensyukurinya – bersama Ibu di rumah tua kita yang letaknya berdampingan dengan langgar, rumah di mana ari-ari kita ditanam di pekarangannya.

Nah, karena itulah sejak berpulangnya Bapak tiga tahun lalu kita jarang berkumpul bersama-sama di rumah Ibu. Adik-adik bilang, kita ‘kan bisa berhubungan setiap saat pakai telepon atau HP. Jadi tak ada masalah kalau tidak dapat berkumpul setiap hari raya. “Kumpul ora kumpul asal mangan, kumpul tidak kumpul asal semuanya makan…,” begitu candamu ketika itu.

Sekarang ini setahuku memang hanya aku dan kau Mas, yang masih memikirkan langgar kita yang dulu dikenal orang dengan nama “Langgar Trunan” – karena eyang buyut, yang mendirikan langgar itu, dikenal dengan nama Eyang Truno. Dan sejak beberapa tahun yang lalu dapat kita amati perubahan-perubahan pada saat kita setahun sekali shalat di dalamnya.

Mas pasti ingat kejadian-kejadian dan percakapan kita. Perubahan pertama adalah digantinya genting lama dengan genting pres yang menjadikan langgar tampil mentereng. Perubahan berikutnya adalah lantai yang dikeramik. Ingatkah ketika kau berbisik, “Sebenarnya lantai tegel yang dibangun oleh Eyang Truno sesaat sebelum meninggalnya itu masih bagus dan bahkan makin lama makin tambah mengkilat.” Dan, tidak kutanggapi pernyataanmu karena memang keramik putih lebih menjamin kebersihan. Kotoran sekecil apapun, tahi cicak misalnya, akan kelihatan di atas hamparan lantai putih bersih.

“Lalu lantai tegelnya dibuang ke mana?” kejarmu ketika itu.

“Tidak dibuang, tapi keramik itu langsung dipasang di atasnya,” jelasku.

Jawabanku rupanya belum memuaskan rasa ingin tahumu, dan kau berujar, “O, begitu. Dananya dari mana Dik? Kamu tahu?”

“Iuran warga. Itu yang bilang Budhe Mujirah,” jawabku.

Kita pun berpikir, memang lebih nyaman shalat ditempat yang putih bersih. Dan, konon setelah dikeramik warga yang shalat jamaah di langgar ini tambah banyak. Ya, syukurlah kalau begitu. Dan, kita santai-santai saja.

Nah, sekarang aku ingin membagi pengalamanku pada saat aku kembali datang di kota kelahiran kita tahun ini untuk merayakan ulang tahunku yang ke tiga puluh sekaligus menengok Ibu yang makin tampak renta dan sakit-sakitan.

Ketika itu aku seperti biasa pergi ke langgar untuk shalat, dan aku mendapati bahwa warna putih keramik menyenangkan itu sekarang sudah berganti dengan warna hijau karpet yang menyejukkan.

Waktu aku tanya bagaimana cara mendapatkan dana untuk membeli karpet sebagus itu, Budhe Mujirah menjelaskan dengan berapi-api seperti biasanya bahwa warga dengan suka cita menyumbangkan uangnya untuk membeli karpet itu. Bahkan warga mengusulkan untuk juga melengkapi langgar dengan alat pendingin.

Namun, karena aku tahu siapa itu Budhe – satu-satunya orang di lingkungan sekitar langgar yang berani bilang tidak pada Pak Lurah – aku menanggapinya dengan bercanda, “Termasuk Budhe? Budhe juga setuju?”

Dan, seperti biasa beliau akan meninggikan suaranya, “Selain aku tentu saja semua setuju!” dengan tekanan pada kata aku. Ya, begitulah Budhe, entah sudah berapa kali kudengar lengkingan suara beliau pada saat membincangkan kebijakan Pak Lurah.

Dan, seperti biasa beliau lalu bercerita dengan menggebu-gebu tentang banyaknya warga yang jadi pengangguran karena kena pehaka padahal mereka kebanyakan beristri lebih dari satu dan masing-masing istri beranak banyak. Juga tentang banyaknya perempuan muda, baik gadis maupun janda, yang jadi “nakal.”

Mas, dari genting pres, keramik, karpet, dan kipas angin aku bisa setuju, meski Mas berkali-kali bilang iuran-iuran itu dikhawatirkan akan membebani warga. Yang tidak dapat aku setujui adalah adanya rencana untuk mengganti karpet baru yang sudah ada dengan karpet yang lebih baru dan kemudian mengganti kipas angin dengan alat pendingin ruangan. Itulah yang tidak dapat aku setujui.

Pada saat aku menanyakan hal ini, salah seorang anggota takmir menjawab, “Karpet lama bukannya tidak terpakai, tapi bisa digunakan oleh warga yang ngunduh tahlilan tapi tak punya tikar atau tikarnya tak mencukupi.” Lalu dia melanjutkan penjelasannya bahwa karpet baru akan jauh lebih sedap dipandang mata, “Bukankah dengan dirancang seperti sajadah dengan gambar masjid megah nantinya para jamaah akan berderet shalat dengan lebih teratur?”

“Bukankah karpetnya masih bagus, Pak Lurah?” begitu tanyaku ketika secara kebetulan bertemu dengan beliau pada saat shalat maghrib.

Pak Lurah menjawab, “Betul Den Pras, tapi karpet ini kasar dan tipis. Dengkul bisa ngilu dan jidat bisa perih. Apalagi jika jidat dan dengkulnya kurus dan layu seperti punyanya Yu Mujirah. Karpet yang baru jauh lebih tebal dan gambarnya bagus. Ini sebetulnya demi orang-orang yang sudah sepuh seperti Yu Mujirah”

Aku kejar, “Bagaimana dengan rencana mengganti kipas angin dengan alat pendingin ruangan? Apa itu juga benar?”

Dan dengan penuh semangat dia membela diri, “Benar, karena kipas angin itu kurang menyejukkan, bahkan bisa bikin kami-kami ini, orang yang sudah tua, jadi masuk angin. Apalagi yang memang pada dasarnya tidak sehat seperti Yu Mujirah. Alat pendingin ruang lain lagi, cess krenyess … sejuk, tanpa angin dan tanpa bunyi uwuk-uwuk. ”

Aku tetap mengejarnya, “Tapi selain alat pendingin ruangan itu butuh tenaga listrik yang tidak sedikit, pemasangannya akan merombak bangunan langgar ini secara keseluruhan. Jendela kayu itu semua akan diganti dengan jendela kaca?”

Barangkali aku sudah berhasil menghabiskan kesabaran Pak Lurah, dan dengan roman muka jengkel dia berkata, “Ya, dan untuk masalah dana Den Pras tidak perlu khawatir. Bukankah selama ini warga tidak pernah merepoti keluarga besar Eyang Truno? Apalagi merepoti orang seperti Yu Mujirah? Tidak pernah, ‘kan?”

Kata-kata ini untukku cukup menyinggung, maka aku pun tak perlu lagi berbasa-basi. Aku pun lugas berkata, “Pak Lurah, saya memang tidak setiap hari shalat di sini, tapi saya dapat amati, bahwa meski sudah pakai keramik, sudah pakai karpet, para jamaah shalatnya masih pakai sajadah. Jadi sama saja dengan ketika shalat di atas lantai tegel yang dibangun Eyang dulu. Juga tentang aliran udara, hal ini sudah dipikirkan betul oleh Eyang. Lihat, begitu banyak jendela! Dan, Pak Lurah tahu bahwa gaya rancang bangun langgar inilah yang mengilhami perancang gedung kelas nasional pada saat dia diminta merancang bangunan masjid di Jakarta, ‘kan? Rumah ibadah berbentuk joglo dengan sebagian dinding dari kayu yang dihiasi ukiran Jepara inilah bentuk tampilan rumah ibadah yang khas Indonesia!”Aku pikir dengan perkataanku ini percakapan kami akan selesai. Namun, ternyata aku keliru.

Dengan senyum tipis dia berujar, “Maaf Den, sebetulnya karpet tebal berpola gambar masjid dan juga alat pendingin ruangan itu sudah kami beli, dan ada di rumah saya saat ini. Selanjutnya tinggal menarik iuran warga. Dan memang warga sudah setuju untuk iuran kok.” Dia berhenti sebentar, tajam melirikku sekilas, dan cepat meneruskan, “Memang untuk dapat dimasukkan menjadi golongan orang-orang yang nantinya masuk surga itu perlu pengorbanan harta benda. Semua warga sudah setuju … kecuali satu orang yaitu Yu Mujirah. Mungkin karena merasa diri keturunan ningrat, jadinya ya biasalah … tidak merakyat. Dan Den Pras tahu sendiri ‘kan kalau Yu Mujirah itu orang yang tidak waras?” Begitu Pak Lurah menyelesaikan ucapannya dengan enteng.

Mas, aku sungguh tak bisa menerima cucu kesayangan Eyang Truno dibilang orang sinting. Namun, rasanya tidak ada gunanya bersitegang dengan Pak Lurah. Aku tidak mampu berbuat apa pun selain bergegas menjauhinya – ya, dengan berbalik dan melangkah meninggalkannya. Tanganku yang terkepal pelahan kuregangkan. Kutarik napas dalam-dalam dan pelahan kuhembuskan. Kupandangi jendela-jendela kayu berukir yang sebentar lagi akan amblas. Tak mampu aku menahan diri, kupeluk dan kucium salah satu daun jendela yang ada di dekatku.
Pak Lurah mengawasiku dengan pandangan penuh tanda tanya.

Mas, aku tak peduli jika sekarang aku juga dianggap tidak waras oleh Pak Lurah. Namun, rupanya masalah dengannya berkembang, tidak berhenti sampai di situ saja. Bahkan, perkaranya kini berimbas pada Budhe Mujirah.

Tetangga yang kita minta menemani Ibu menelponku sekitar seminggu yang lalu. Dia katakan bahwa tiga hari lalu atap teras rumah Budhe Mujirah, yang sudah makin rapuh dan doyong ke arah langgar, membawa masalah. Beberapa gentingnya melorot dan ada yang jatuh menimpa kepala salah seorang jamaah langgar. Katanya, orang-orang menggelandang Budhe Mujirah ke rumah Pak RT. Mas, apa yang sebaiknya kita lakukan sekarang? Aku berdoa semoga masalah ini dapat segera diselesaikan dengan baik.

Aku tunggu jawabanmu.

Dari adikmu Prasojo.

Lord, Whose Prayer Will You Listen To?

Maya Denisa Saputra was born on July 30, 1990 in Denpasar, the capital of Bali, and grew up on Indonesia’s “island of the gods.” She left briefly to finish her education, a bachelor’s degree in Accounting and Finance from the UK-based University of Bradford in Singapore.

While holding a position in the accounting department of a family business, she pursues her interests in writing, literary translation, and photography.
She can be reached at: maya.saputra@gmail.com

 ***

 

Lord, Whose Prayer Will You Listen To?
by
Junaedi Setiyono

 

Mas Agung is our eldest brother. After our father passed away, Mas Agung stepped up to fill his role. Mother was glad to see that all of us, seven siblings, maintained the same harmonious relationships we’d had during the time Father was still around. This, of course, could only happen under the guidance of Mas Agung. Therefore, when Mother’s older sister, Budhe Mujirah, faced a problem I could not help her with, it was only natural that I turned to Mas Agung.

Hence, I wrote him a letter.

***

Purworejo, March 10, 2005.

Dearest Mas Agung,

If it were not for Budhe Mujirah, I wouldn’t bother you. Actually, she asked me to write to you last week. I delayed, however—not because I was busy. I had to sort out my own feelings first, as this is about our langgar.

Since Father passed away, I haven’t paid too much attention to what the villagers did to the prayer house that was built by our great-grandfather. This lack of concern came from the assumption that our family seemed to agree—was happy even—with the changes the villagers were making to Eyang’s langgar. I once told you that I took such a stand because you and everyone else seemed to approve. I also realized there wasn’t much we could do. Perhaps we were all afraid to be considered apostates of our religion if we objected to improvements made to a langgar that was built long before the independence of our country in 1945.

I had no qualms about the villagers’ remodeling plans for the langgar, under the leadership of our lurah, who also is our Pak Kiai. Aside from the fact that we were sure that a person who is the village chief, as well as the elder of our congregation, would do the right thing, we were too poor to shoulder the expenses ourselves. In order to conceal our financial situation, you told the lurah we needed to prioritize the execution of repairs. At least we kept the roof from leaking and prevented the termites that managed to crawl out from under the floor tiles from destroying the walls. These are the only things I can remember.

The education of the seven of us had depleted our family funds. Mother always wanted to see us become well-educated people with university degrees. Aside from providing for our education, our family savings also funds care for Mother, as her health is beginning to decline.

So, when Pak Kiai visited and asked permission to replace the old roof tiles with new, factory-made tiles, we immediately agreed and thanked him over and over again. At some point, we did replace some of the original old roof tiles. However, the size of the new tiles was different from the timeworn, broken ones, and this, of course, created a problem. When it rained hard, water would seep through and drip on people’s heads, making them wipe their faces uncomfortably.

As you know, most of us live and work in Jakarta now. None of us stayed in Purworejo, where we were all born, to live with Mother and take care of our langgar. Some of us left to study, while those who graduated from university found jobs elsewhere. As the seven of us are spread all over, we all agreed to jointly give money to a close neighbor to keep Mother company. And, fortunately, Budhe Mujirah does not live too far from Mother.

This is why we accepted it when the villagers renovated the langgar without consulting us. It was possible that they searched for us to no avail. And knowing Mother, she would only have said, “Sumangga kula nderek: I agree, please go ahead.”

For that reason, I suggested that we bequeath the langgar to the community. In reality, it already belonged to the public and was not ours anymore. Everyone agreed, and you and I took care of the necessary documents needed to transfer ownership of the property. The procedure ended smoothly and was a huge relief to us, because we also felt that we had pleased Mother. I’m sure you remember Mother often reminds us in whispers that, no matter what, we’re still descendants of trah kesuma rembesing madu, a clan that carries the distinctive quality of adhering to the concept of putra becik nyirami mring kulawarga: good children will be a blessing to their family.

About five years ago, we all agreed to go home just before Eid al-Fitr and return to work after the Eid prayer. However, after Father passed away in June 2002, Mother advised that we not all come home on Eid al-Fitr together. “Your homecoming creates more trouble than it is worth,” she said.

I secretly thanked Mother for her suggestion. She was right—but it would not have been appropriate if any of us children had made the suggestion. We agreed to go home on our own birthday and celebrate it—Mother prefers the term “give thanks”—with her in our old house next to the langgar; the house where our umbilical cords were buried in its yard.

This is why, after Father’s passing three years ago, we rarely gather at Mother’s house. Our younger siblings said that since we can connect at any time via telephones and cell phones, it won’t be a problem if we can’t meet on Eid al-Fitr. “Kumpul ora kumpul asal mangan: whether we gather or not, the most important thing is we all are still able to eat,” you joked at the time.

As far as I know, today, only you, Mas, and I are still concerned about our langgar—once known as Langgar Trunan, because our great grandfather who built it was known as Eyang Truno. We have noticed changes when we say our prayers there once a year.

I’m sure you remember these changes and our conversations. The first was the replacement of the old roof tiles with the new factory-made ones, which gave our langgar a luxurious appearance. Next came the ceramic floor tiles. Do you remember whispering, “Actually, the cement tiles Eyang Truno had installed just before his passing were still fine and would look shinier as time passes.”

I did not respond. The white ceramic floor tiles were better for hygiene purposes. The smallest dirt—the droppings of a cicak house lizard, for example—could be easily spotted on the surface of the white floor tiles.

You continued, “Then, where were the old floor tiles discarded?”

“They weren’t thrown away. Those ceramic tiles were put directly on top of them,” I explained.

My answer did not satisfy you, and you pressed on, “Do you know where the funds came from?”

“The villagers pooled their money. That’s what Budhe Mujirah said.”

We finally agreed that it was more comfortable to pray in a shiny and clean place. Reportedly, after the installation of the ceramic floor tiles, more villagers came to the langgar for congregational prayers. For this, we could only be thankful, and we relaxed.
Now I’d like to share what I saw when I returned to our hometown to celebrate my thirtieth birthday and visited Mother, who looks even frailer.

As usual, I went to the langgar to do shalat and noticed that the nice-looking white floor tiles had been replaced with a calming green carpet.

I asked Budhe Mujirah how the villagers managed to raise the funds to buy such a beautiful carpet; she explained that the villagers gladly donated their money and even suggested installing an air conditioner.

Knowing that Budhe was the only person who would dare to say no to the lurah, I responded jokingly, “Including you, Budhe? Were you also agreeing?”

As usual, Budhe raised her voice and spat, “Everyone agreed except me,” emphasizing the word me. Well, that’s our Budhe. I’ve lost count on how many occasions she raised her voice when she talked about the lurah’s policies, and then continued to rant about the villagers who were unemployed, even though most of them had more than one wife, and each wife had many children, and the many young women, virgins and divorcees alike, who went astray.

Mas, even though you repeatedly told me you worried that all their contributions would burden the villagers, I still can go along with clay roof tiles, ceramic floor tiles, rug, and fan. However, I object to replacing a rug that still looks new, and replacing the fan with an air conditioner. I really can’t agree with that.

When I asked the board about it, one of the administrators replied, “The old rug is now used to accommodate villagers who don’t have any or enough mats for a memorial service.” He also explained that the new carpet was even more pleasing to the eyes.

“Would a design resembling a prayer mat depicting a grand mosque not make the praying congregation line up more orderly?” he asked.

When I happened to meet the lurah during shalat maghrib, the sunset prayer, I asked him,

“Pak Lurah, isn’t the rug still in good condition?”

The lurah answered, “You’re right, Den Pras, but the material feels rough on the skin and it’s thin. Our knees ended up hurting and our foreheads scratched. This would be even more so for those who have thin and old knees and forehead, like Yu Mujirah. The new rug is much thicker and has a beautiful design. Actually, we do this for older people like Sister Mujirah.”

“Then, what about the plan to replace the fan with an air conditioner?” I quickly asked. “Are you really going to do that?”

Pak Lurah passionately defended himself. “Yes, I will. The air from the fan is not cool enough, and it might even make us old people catch a cold, especially those who are frail like Yu Mujirah. The air conditioner operates differently. The air is cool, but there’s no wind nor any humming sound.”

I continued to pressure him, “Aside from the huge amount of electricity needed to power the air conditioner, its installation will cause a major change to the overall appearance of this langgar. Are those wood windows going to be replaced with glass ones?”
Perhaps I had managed to exhaust the lurah’s patience.

“Yes,” he replied, irritated, “and Den Pras doesn’t have to worry about the funding. After all, the villagers have never bothered the family of Eyang Truno, nor someone like Yu Mujirah. Right?”

His words offended me, and I no longer felt the need to make small talk. I said straightforwardly, “Even though I don’t pray here every day, I notice that, despite the ceramic floor tiles and carpeting, members of the congregation still use their prayer mats. So, there’s no difference between what they pray on now and when the langgar still had the cement floor tiles Eyang had put in. And the ventilation was also something Eyang had already thought about. Look how many windows there are.

“The joglo roof and partially wooden walls decorated with Jepara carvings make this place of worship unique. The pyramid-shaped roof even inspired a nationally renowned architect who was commissioned to design a mosque in Jakarta.” I thought my statement would end our conversation. Well, I was wrong.

He smiled cynically and replied, “I’m sorry, Den, but actually, we already purchased the thick rug with a mosque design and the air conditioner. The items are now stored at my house. We only need to pool the money from the villagers. They have agreed, anyway.” He paused for a while, to give me a sharp glance, and continued. “Indeed, to be able to join those who go to heaven, a material sacrifice is needed. Everyone has agreed. Everyone except for one person: Yu Mujirah. Maybe because she considers herself nobility, she figures she’s above worrying about the common folks. And you probably know that Yu Mujirah isn’t thinking right,” the lurah ended lightly.

Mas, I really couldn’t accept that he called Eyang Truno’s most beloved granddaughter a crazy person. However, there was no point in being stubborn and arguing further with the lurah. I couldn’t do anything else except quickly distance myself from him.

I relaxed my fingers and opened my clenched fist. I took a deep breath, then slowly exhaled. I took a long look at the wooden windows that would soon be gone. Not being able to restrain myself, I embraced and kissed one of the window shutters near me.
The lurah watched me, perplexed.

Mas, I don’t care if I’m now the one who’s regarded as insane by the lurah. But, our problems with him are far from over. They’ve now extended to Budhe Mujirah.

The neighbor we often ask to accompany Mother called me about a week ago. She told me that the roof over Budhe Mujirah’s verandah, which was old and leaned towards the langgar, had caused a problem. Some of its tiles slid off and fell on a worshipper’s head. She also said that the villagers confronted Budhe Mujirah and hauled her off to the lurah’s house.

Mas, what should we do now? I pray that this problem will get resolved soon.

I’ll be waiting for your answer.

From your brother,

Prasojo

Choose Site Version
English   Indonesian