Click here for:

Kehampaan di Pantai Tanjung Lesung

Maryam Mufidah was born on December 22, 2007, in Purworejo, Central Java, Indonesia. She currently is a sixth grader at the elementary school of the Muhammadiyah Kutoarjo.

As her writing achievements she notes two placings in 2019. A second place at the “Festival dan Literasi Nasional”— a short story competition for the Kutoarjo area, and a first place at the “Tsamuha Smart Competition” — a short story competition for the Jawa Tengah province.

Maryam and her family currently reside in Pangenjurutengah, Purworejo, Jawa Tengah. She can be reached via her mother, Sari Wahyuni, at: 085743637002.

 
 
 
 

Kehampaan di Pantai Tanjung Lesung

Sore itu, pada 22 Desember 2018, kabut tebal dan suara gemuruh yang tak kunjung reda menghantam seluruh pantai Tanjung Lesung, Pandeglang.

“Gempa! Gempa! Gunung Krakatau meletus!” Teriakan penduduk di sekitar pantai Tanjung Lesung terdengar di seantero desa.

Isak tangis terdengar di mana-mana. Korban pun banyak terlihat di reruntuhan rumah. Banyak jasad tak terurus. Desa sunyi menahan sedu dan pilu.

Seorang anak berparas cantik duduk bersandar di bebatuan purba yang berada di tepi pantai. Mata anak itu disembunyikan di antara kedua lututnya. Wajahnya tertunduk.

“Nak, mengapa kamu di sini?” tanya seorang polisi yang sedang berkeliling di tepi pantai yang masuk dalam provinsi Banten itu. Dia ditugaskan untuk mencari korban-korban gempa bumi yang kemudian disusul tsunami.

Anak itu memandang polisi itu sebelum berkata lirih, “Saya sudah tidak memiliki apa pun.”

Polisi itu lalu mencari keterangan mengenai anak perempuan itu pada penduduk setempat.

Anak itu bernama Fenita. Kecuali kakaknya yang sedang meneruskan pendidikan di luar Pulau Jawa, semua keluarganya memang sudah habis ditelan gempa dan digulung tsunami.

“Fenita, kakakmu akan kuberitahu mengenai keadaanmu dan orangtuamu yang telah meninggal. Kamu dapat tinggal di rumahku sampai kakakmu datang menjumpaimu. Kamu dapat memanggilku Om Rian,” polisi itu tersenyum sambil menatap Fenita.

“Pak Polisi eh Om Rian tidak keberatan?” tanya Fenita ragu.

“Om di rumah sendirian. Jadi…,”

Om Rian belum menyelesaikan kata-katanya, Fenita langsung memeluknya dengan erat. Dia memang masih membutuhkan kasih sayang orangtua.

***

Fenita didaftarkan oleh Om Rian ke sebuah sekolah dasar di Kota Tegal. Pada hari pertama memasuki sekolah, Fenita masih gugup. Namun, atas dukungan Om Rian dia akhirnya dengan percaya diri belajar di sekolah itu. Fenita tidak malu-malu berkenalan dengan teman-teman barunya.

Di sekolah itu ada seorang anak bernama Winda yang sama-sama tak memiliki orangtua.

“Kita harus tetap tegar menghadapi berbagai ujian. Hidup bukanlah untuk berpangku tangan,” kata Winda pada saat jam istirahat.

“Kau benar,” Fenita tersenyum dan berharap dapat berkawan akrab dengan Winda.

“Kamu perlu tahu aturan kelas kita. Siapa yang paling sedikit kekurangannyalah yang menjadi pemimpin. Semua murid akan menjulukinya si orang pertama,” jelas Winda.

“Ada anak yang seperti itu?”

“Ada. Anak itu bernama Malik. Itu dia,” Winda mengarahkan pandangannya pada Malik yang sedang bersandar di pintu kelas tak terlalu jauh dari tempat Fenita dan Winda bercakap-cakap.

“Menurutku, anak yang memiliki apa yang kau sebutkan tadi tidaklah berarti apabila dia hanya peduli pada dirinya sendiri,” kata Fenita.

“Ssst! Malik datang,” bisik Winda.

Malik mendatangi mereka dan menghardik Fenita, “Anak baru sudah berani menantang aku!” kata Malik gusar. Dia berpaling dari pandangan Fenita, dan langsung pergi.

Kembali Fenita dan Winda berdua bercakap-cakap.

Menurut Winda, sebenarnya teman sekelas tidak setuju aturan yang dibuat Malik, tetapi mereka tidak berani menentangnya,
“Semoga aku bisa membantunya untuk berubah melalui doaku,” kata Fenita sambil tersenyum.

Sepulang sekolah Fenita langsung mencuci kaki, berganti baju, berwudhu, dan melaksanakan salat. Seusai salat, Fenita berdoa supaya Malik mendapat hidayah. Fenita membaca Alquran dan berharap doanya dikabulkan.

***

Pada saat liburan sekolah, Om Rian mengajak Fenita berlibur ke pantai Tegal.

Fenita tidak menjawab. Dia berlari ke kamar, dan menangis. Dia beranggapan bahwa pantailah yang membuatnya menjadi yatim piatu.

Tak lama kemudian, Om Rian masuk ke kamar Fenita. Dia duduk di pinggiran tempat tidur Fenita sambil mengelus-elus kepalanya dengan lembut.

Ajakan Om Rian berlibur ke pantai menjadikannya gundah. Untuk menenangkan diri, Fenita bermain ke rumah Winda yang jaraknya tak begitu jauh dari rumah Om Rian.

Fenita bercerita pada Winda tentang gempa dan tsunami yang melanda desanya.

“Saat itu aku dan ayahku berencana menangkap ikan di laut dengan menggunakan perahu.

Ibu yang tahu mengenai rencana itu langsung menyiapkan makanan ringan. Ibu telah membeli buah melon yang akan dibawa ke pantai. Lalu gempa datang mengguncang desa.

Ayah langsung membawaku ke tepi pantai dengan menggunakan perahu miliknya agar aku dapat selamat. Namun, di pantai tsunami datang.

Aku diminta lari ke arah daratan.

Ayah bukannya menyelamatkan diri, dia malah menolong seseorang yang tenggelam digulung ombang. Ayah pun terombang-ambing di antara gelombang yang menggunung,” cerita Fenita. Matanya berkaca-kaca.
“Bagaimana dengan ibumu? Apa yang terjadi dengannya?”

“Sewaktu gempa, kaki ibu tersandung melon yang menghambatnya lari keluar. Ibu tertimpa kayu penyangga rumah,” lanjut Fenita. “Itulah yang membuatku benci pantai dan buah melon. Keganasan alam itulah yang membuatku hidup seperti sekarang ini,” lanjut Fenita. Air matanya menetes.

“Jangan khawatir, semua yang kita punya di dunia ini hanyalah sementara. Semua yang kita miliki pasti kembali pada Yang Kuasa. Hidup di dunia bukanlah satu-satunya cara kita bahagia. Dengan membahagiakan orang lain pun kita dapat berbahagia. Bukan hanya berbahagia di dunia, namun juga di akhirat,” ucap Winda menyemangati.

“Terimakasih, Winda. Kata-katamu menyemangatiku,” kata Fenita

“Jangan pernah membenci sesuatu yang Allah ciptakan untuk kita,” jawab Winda.

***

Keesokan harinya, Fenita didekati Winda yang mengabarkan tentang lomba membuat rangkaian bunga dan menghias bingkai foto dari bahan-bahan yang mudah dijumpai di lingkungan pantai.

“Dengan mengikuti lomba ini kamu dapat membahagiakan orangtuamu,” ucap Winda. “Hayo, lebih besar yang mana? Keinginan untuk membahagiakan orangtuamu atau keinginan untuk menghindari pantai? Sampai kapan kamu akan seperti ini?” tantang Winda yang akhirnya membuat Fenita bersedia ikut.

Sesampainya di gelanggang lomba, Fenita terkesima dengan keindahan pantai Kota Tegal. Sudah lama dia tak melihat pantai.

Winda menunggu di teras bangunan yang didirikan di tepi pantai, sedangkan Fenita bersiap mengikuti lomba.

“Hei, kamu lagi, kamu lagi. Bosan aku!”

“Malik?” Fenita terkejut, tapi cuma sebentar.

Fenita tak menghiraukan Malik. Dia berharap Malik tak mengganggunya. Setelah acara dimulai, Fenita mendengarkan pewara yang sedang menjelaskan tata cara lomba. Pewara tersebut memberitahukan bagaimana membuat bunga dengan menggunakan sabun. Hanya dengan mengukir memakai pisau kecil, peserta diharapkan dapat menghasilkan bunga istimewa.

Saat lomba dimulai, Fenita bingung. Kain flannel dan manik-maniknya hilang. Dia mencoba mencarinya, namun tanpa hasil. Ternyata kain flannel dan manik-maniknya berada dalam genggaman Malik. Fenita menghela napas. Dia tidak mau berurusan dengan Malik.

Fenita memutar otaknya untuk mencari bahan lain. Fenita berjalan mendekati pedagang di seputar pantai. Semula Fenita enggan untuk membeli buah melon karena buah melon selalu mengingatkannya pada cerita tentang kematian ibunya. Fenita pun membeli buah melon yang nantinya akan diukir membentuk bunga mawar dengan pisau kecil yang diberikan pada setiap peserta lomba. Namun, Fenita masih bingung bagaimana cara menghias bingkai foto. Tiba-tiba terlintas di benaknya untuk memanfaatkan kerang di tepi pantai sebagai bahan utamanya. Fenita lekas-lekas mengambil kerang-kerang bercorak indah.

Fenita beranjak ke gelanggang lomba dan langsung membuat bunga dengan mengukir bagian dalam melon dan menyusun kerang-kerang menjadi sebuah hiasan bingkai foto. Beruntung Fenita telah diberitahu cara mengukir bunga dengan menggunakan pisau sehingga ia dapat membuat bunga yang indah. Seusai Fenita berkarya, dia menyerahkan karyanya dan menemui Winda. Fenita memberitahukan apa yang baru saja dilakukannya. Dia berjanji tidak akan membenci melon dan pantai jika dia menang.

Waktu pengumuman tiba. Fenita meraih juara satu dan Malik juara dua.

Fenita sangat bahagia. Dia naik ke atas panggung. Namun, anehnya, Malik tak berada di sampingnya ketika penilai menyerahkan penghargaan dan piagam untuk Fenita.

Setelah ditunggu beberapa saat, pewara memberitahukan bahwa Malik tak ada di panggung karena dia sedang mendaftar di sebuah asrama pondok. Penghargaan dan piagam milik Malik akan diantar panitia ke pondok pesantren barunya.

Fenita bergembira karena doanya telah dikabulkan.

Setelah turun dari panggung Fenita segera menemui Winda. Fenita melihat Om Rian dan seorang gadis berada di samping Winda. Gadis itu adalah kakak Fenita yang dia nantikan kedatangannya. Fenita memeluk kakaknya erat-erat.

Winda memberi tahu kalau doa Fenita juga dikabulkan oleh Allah: Malik masuk pondok pesantren. “Allah Maha Penyayang pada semua makhluk-Nya. Bagian-bagian alam yang ada di dunia ini pastilah dapat membahagiakan manusia dengan membuahkan manfaat. Namun, kita saja yang sering melihat kemurahan Allah itu secara sempit,” jelas Winda.

*****

Choose Site Version
English   Indonesian