Click here for:

Yang Beralih

At age 46, Rinto Andriono survived a stroke, caused by a blockage in his brain vessels, which paralyzed the right side of his body. Writing was one of the healing activities his neurologist recommended as a means to restore his ability to reason. Rinto began to write in June 2018, six months after he had the stroke.

Prior to this, Rinto was a post-disaster recovery planner, who worked extensively in various disaster sites throughout Indonesia and Asia. Now, during his post-stroke period, he is more involved in studies and online training and writing on post-disaster mitigations. In his spare time, Rinto likes to go for walks and read material with philosophical content regarding the protection of the natural environment.

Rinto writes to find meaning in his life, which now has limitations. Writing frees his soul and mind, both of which might have been constricted before his stroke, even though, at that time, he had no physical constraints.

Under the guidance of Ahmad Yulden Erwin, Rinto wrote a dozen short stories, which he compiled in an e-book titled Kencan Hikikomori, Hikikomori’s Courtship.

Rinto Andriono passed away at 8:30 a.m. on November 29th, 2021, in Dr. Sardjito Hospital, Yogyakarta from a heart attack.

We are deeply saddened by the passing of Rinto Andriono, one of our talented writers. He is survived by his wife, Dati Fatimah, a son and a daughter.

Farewell, dear friend. May you rest in peace.

 

 Yang Beralih

 

Matahari sudah tinggi, udara Yogya sudah berjam-jam membungkus badan Soumi dengan gerah. Lengket, panas dan lembab menyatu mengumpulkan resah. Soumi resah, hatinya sangat resah. Resah yang berkepanjangan membuatnya gundah. Gundah pada kehidupan sepinya. Kehidupan yang dipilihnya sendiri semenjak itu. Hidup yang telah memenangkan hati memang bisa jadi sulit, karena ternyata hidupnya tidak selalu bisa dimenangkannya. Tetapi bukan semata-mata dia yang membentuk hidupnya – ada dengus bengis yang turut mendorongnya menyeberangi jati dirinya.

***

“Soumi, bangunlah, sudah subuh!” teriak Karyo dari luar kamar.

Saat itu ibu Soumi sedang menginap di rumah sepupunya yang belum sehari menjanda. Soumi ditinggal serumah hanya berdua dengan Karyo, suami Ibunya yang tentara. Karyo bukan bapak kandungnya. Soumi adalah buah pernikahan ibunya dengan suami sebelumnya. Ibunya dan Karyo tidak beranak. Hanya Soumi semata wayang anak mereka.

Ingatan Soumi cepat mengisi sepenuh kesadarannya, dia sudah terbiasa bangun sebelum subuh. Galibnya ibunya menjerang air di perapian. Pagi ini, dia yang akan melakukan itu tanpa ibunya. Soumi riang dan ringan. Bagai kedasih yang berbahagia dia bangkit dari pembaringan. Soumi segera menyahuti Karyo sambil melangkah membuka gerendel kamarnya.

Tiba-tiba dengan sangat berdaya, pintunya terdorong terbuka. “Heh ….” Seolah kerbau dungu Karyo mendengus dan menyergapnya.

“Ahh ….” Soumi tidak cukup sigap dan berdaya untuk melawan.

Ratusan lukisan hidupnya koyak seketika. Lukisan-lukisan yang polos tentang masa lalunya, yang warna-warni tentang cita-citanya, yang bergelora tentang cintanya dan yang masih samar-samar tentang masa depannya. Semua berubah bagi Soumi pagi itu. Seketika, dia menjadi kain mota yang koyak, luruh dan tidak berguna!

***

Dari dalam kamarnya, Soumi membaui wewangian badan Karyo yang sudah mandi dan hendak pergi bekerja. Seketika Soumi mual. Lantas dia mendengar Karyo pergi sambil bersiul-siul, seolah tidak terjadi apa-apa.

Soumi bergegas pergi ke kamar mandi dengan hati luluh lantak. Dia mandi lama sekali. Seolah noda yang dipaparkan Karyo sangat sulit hilang, dia menggosok tubuhnya lagi dan lagi. Air bilasan mengalir tanpa henti, tapi perasaan ternoda dalam hatinya tetap tidak mau pergi.

Kembali di kamarnya, dia menekuri foto-foto dirinya, kemudian berucap, “Apa gunanya foto-foto ini?” Dia membakar semua foto-foto masa kecilnya, raport sekolah, ijazah tiga kali kelulusan di SD, SMP dan SMA, kartu penduduk serta akta kelahirannya. Dia mengemasi barangnya sekaligus mengemasi batinnya. Soumi merasa harus meninggalkan rumah lamanya dengan segala kelemahan dan kekalahan sebagai perempuan yang pernah dikenalnya.

“Aku tidak mau hidup sebagai perempuan!” ikrar Soumi yang masih dalam tubuh perempuannya, “Dunia ini memang bukan untuk perempuan!”

Sekarang Soumi memang menjadi butuh jati diri yang baru. Namun Soumi belum memikirkan, kemungkinan menjadi lelaki. Dia masih jijik dengan jenis kelamin Karyo.

“Aku tidak ingin berubah menjadi pemerkosa seperti Karyo! Aku juga tidak akan lagi menjadi korban permekosaan siapa pun!” kata Soumi mantap meninggalkan rumahnya.

Bagi Soumi, rumah sudah kehilangan teduhnya, bahkan, dia pergi tanpa merasa perlu menghiraukan pintunya yang masih dibiarkan menganga. Dia hanya meninggalkan pesan pendek untuk berpamitan pada ibunya. Riwayat rumah itu sudah padam bagi Soumi.

“Ini sudah bukan rumah!” Soumi pergi dari rumahnya, sekaligus meninggalkan jati dirinya.

***

Setelah mencobai hidup di Malang dan Surabaya, akhirnya Soumi terdampar di Yogya. Kota berhati nyaman yang telah membuka diri untuknya. Soumi sekarang bertubuh lebih kekar. Dia melatih dirinya dengan bela diri tinju dari Thailand. Rambutnya pun terpotong pendek dan rapi. Dia menggunakan jel rambut yang pekat. Jejak sisir nampak jelas di rambutnya.

Sebelum wabah covid, Soumi bekerja menjadi pramusaji di sebuah rumah makan modern. Pembawaannya yang rapi bahkan cenderung halus membuatnya banyak disukai orang-orang. Pekerjaannya pun membaik, dia tidak hanya menjadi pramusaji namun telah dipercaya menjadi penyelia. Soumi merasa hidup kini telah berpihak padanya. Namun semua kandas setelah wabah covid berjalan hingga bulan kedelapan. Rumah makannya tidak lagi sanggup melawan gempuran kehilangan pelanggan disertai kenaikan harga-harga bahan baku. Benteng penghidupan. Soumi pun ikut runtuh bersamaan dengan itu.

Siang itu, dia berpeluh mengantri. Wabah covid yang berumur setahun telah memakan kehidupannya hingga tersisa remah-remah terakhir. Soumi mengantri untuk mendaftar menjadi penerima Bantuan Langsung Tunai (BLT) dari pemerintah.

“Nama?” tanya petugas Kepanewonan Mergangsan pendek.

“Soumi.”

Petugas yang bosan mendongak, mendesak, “Yang benar?”

“Benar, Pak, saya Soumi.” Soumi menegaskan diiringi goresan enggan sang petugas di borang pendaftaran.

“Kau laki-laki atau perempuan?” tanya sang petugas menyelidik.

“Bukan keduanya.” jawab Soumi dengan penuh keyakinan.

Petugas itu berhenti menulis. Dia bersandar di kursinya seolah paling benar. Dia menarik nafas dalam-dalam seperti mempersiapkan sebuah ceramah panjang tentang ragam jenis kelamin yang diijinkan untuk surat-surat kependudukan di negara kesatuan ini. Serangkaian kata berhamburan dari mulut ceroboh tak bermasker. Mulai dari pilihan di borang hingga perintah agama. Intinya, Soumi harus memilih, laki-laki atau perempuan. Titik!

Bagi Soumi, perintah mengisi borang ini sangat berat. Dia enggan membuka kenangan pahit masa lalunya – saat dia masih perempuan dan lemah. Meski sekarang sudah tidak menganggap dirinya perempuan, dia tidak lantas menyebut dirinya laki-laki. Dia sudah mantap dengan dirinya yang bukan keduanya. Kemantapan itu seiring dengan kekosongan jati dirinya yang mulai terlukis dengan gambaran diri yang baru. Soumi merasa nyaman dengan dirinya sekarang yang jauh dari dirinya dahulu, tetapi dia tetap bukan Karyo yang laki-laki dan bengis serta jumawa.

“Coba lihat KTP?” pinta petugas yang mulai putus asa dengan keterangan Soumi.

“Saya tidak punya KTP, hanya kartu penduduk musiman dari Kelurahan,” jawab Soumi.

“Tidak punya KTP tidak boleh mendapat BLT.” kata petugas pendek memungkasi upaya Soumi untuk menyambung hidupnya.

Soumi sebenarnya enggan beradu mulut, tetapi dia sangat membutuhkan BLT untuk kelangsungan hidupnya. Dan jawaban dari petugas di manapun selalu seragam. Jawaban yang sudah dihafal Soumi dari pengalamannya mengurus surat-surat kependudukan. Seolah memutar pita rekaman rusak, Soumi pun mengulang membacakan berbagai rujukan Kesepakatan Internasional tentang pengakuan terhadap jenis kelamin ketiga. Masalah ini sebetulnya bisa teratasi bila Soumi pulang ke kampung halamannya dan mengurus surat pindah. Tapi itu mustahil bagi Soumi karena Karyo masih hidup dan dia sudah tidak menginginkan jati dirinya yang lampau. Lukisan yang telah koyak biarlah usang. Soumi sedang melukis yang baru.

“Urus KTP dulu, baru bisa ambil BLT,” kata petugas ketus memungkasi adu mulut dengan berteriak, “Antrian berikutnya!”

***

Di bulan Maret 2021, Soumi dan kawan-kawannya telah memasuki bulan kelima kehilangan pekerjaan di rumah makan. Wabah ini mengharuskan mereka memutar otak lebih kencang. Inilah saatnya dimana dunia manusia berubah sedemikian cepat sehingga meninggalkan manusia-manusia yang hidup di dalamnya. Para manusia tunggang-langgang mengikuti dunianya yang telah bergeser tidak sekehendaknya. Ini ibarat rumah yang justru pergi meninggalkan penghuninya.

Soumi dan kawan-kawan pun berangsur kehilangan isi tabungannya dengan pasti. Mereka berusaha menyambung hidupnya dengan berbagai cara. Mengurangi catuan makanan harian adalah pilihan pertamanya. Soumi pun berkeras untuk tidak berobat meski batuk atau demam datang mendera. Soumi telah berpindah ke kamar sewaan yang lebih sempit, kumuh, terpencil, tetapi murah. Sambil mencari pekerjaan apa pun yang mungkin diraihnya.

Kawan-kawannya pun berlaku sama. Pilihannya, terus berusaha sebisanya atau punah. Suatu ketika mereka bersepakat bertemu. Kepencilan masa wabah membuat mereka saling terasing. Mereka butuh bertemu di taman kota untuk sekedar mengadukan keluh dan mendengarkan resah.

“Kau sekarang jadi apa, Gar?” tanya Wulan, dulu sesama pramusaji dengan Soumi.

“Aku jualan ikan cupang,” jawab Tegar, mantan kasir rumah makan yang tegar. “Ikan kecil biaya pemeliharaannya irit.”

“Aku bikin lumpia, tapi harus pesan dulu baru nanti kubuat dan kukirim ke pemesan.” terang Wulan.

Soumi senang kawan-kawannya terus berusaha semampunya. Di masa wabah ini yang penting obah mamah – terus bergerak meski hasilnya sedikit, hanya cukup untuk makan.

“Sekarang pendapatan keluarga kami menjadi lebih sedikit,” papar Wulan, “anak-anak sudah tidak pernah bisa plesir lagi.”

“Ya … tidak ada lagi cukup uang untuk kebutuhan sampingan,” lanjut Tegar, “semua mendapat rejeki tipis-tipis tapi rata, ini waktunya berbagi.”

“Sudah sebulan ini, kami selalu melewatkan sarapan, bukan karena ingin langsing seperti orang-orang gedongan, tapi biar irit,” timpal Wulan.

Lain Wulan dan Tegar, lain pula Yanto. Dia adalah mantan satpam rumah makan. Tubuhnya kekar dan sehat. Memenuhi syarat sebagai penjaga keamanan yang baik. Namun nasibnya tidak sebagus badannya. Yanto ketularan covid dan menghabiskan dua setengah minggu di rumah sakit untuk sembuh dari penyakit ini. Dia sampai harus menggadaikan kendaraannya untuk mencukupi kebutuhan keluarganya.

Hidup mereka seperti buah simalakama; bila tidak bekerja maka tidak bisa makan tetapi bila terus berusaha maka bahayanya adalah kemungkinan tertular covid.

“Rasanya bagaimana, Yanto?” tanya Tegar.

“Kau pernah merasakan influensa yang sangat berat?” tanya Yanto kembali.

“Iya,” jawab Tegar.

“Nah, rasa itu kau kalikan tiga, begitu rasanya.” terang Yanto. “Pertama kau akan kehilangan penciumanmu, lalu zat asam tidak bisa disera tubuh karena paru-paru berlendir. Bila tak dibantu pasokan zat asam, kau akan lemas dan menemui ajal.”

“Hiiii.” nyali Tegar mengkeret.

Soumi mendapati Jamila, mantan tukang masak di tempat kerjanya dulu, menyendiri dan kurang bersemangat.

“Hai, Jamila.” sapa Soumi.

“Kita ini menyaksikan rumah makan tempat kita bekerja tidak mampu lagi mencari makan.” kata Jamila, tukang masak yang sudah belasan tahun bekerja di situ, seolah menyesali keadaan.

“Sekarang kau kerja apa, Jamila?” tanya Soumi.

“Aku belum dapat, seumurku sudah susah mencari kerja dan memulai dari awal lagi.”

“Tapi kau bisa memasak!” yakin Soumi, “Usaha yang besar memang bertumbangan, tapi usaha yang kecil masih ada peluang tumbuh kembang.”

“Tidak mungkin aku bisa hidup, aku butuh biaya besar.”

“Heh, kau tidak boleh patah.”

Jamila tidak menyahuti Soumi, Dia mengeloyor pulang.

Mereka berpisah, hingga seminggu kemudian, mereka bertemu lagi.

Mereka berkunjung ke rumah sewaan Jamila sebagai pelayat yang hendak menghormati Jamal untuk terakhir kalinya. Wabah covid ini memang seperti saringan yang telah memisahkan manusia yang kuat dari yang lemah dengan garis pembatas yang tegas.

Dari teman-temannya, Soumi tahu bahwa Jamila menderita hepatitis C semenjak dari Jamila masih bujangan tua yang dikenal sebagai Jamal.

***

Sepanjang hidupnya Jamal telah lelah memperjuangkan KTP untuk mendapat Bantuan dari Badan Penyelenggara Jaminan Kesehatan (BPJS). Penyakitnya membutuhkan perawatan berlanjutan yang tidak murah. Dia membutuhkan pengobat yang mahal. Semua ongkos perawatan kesehatan itu tidak mampu dibayarnya. Saran kepala desa di kampungnya, Jamal bisa saja mendapatkan KTP asal tidak terlalu keras kepala untuk mengakui bahwa dia berkelamin lelaki.

“Surat Kelahiranmu laki-laki kan, Mal?” kata Kepala Desa, “Isian jenis kelamin di KTP-mu ikut Surat Kelahiranmu saja, biar nanti bisa dapat BPJS.”

“Iya.” kata Jamal berat.

“Nyatanya yang busuk menggantung itu juga kelamin laki-laki,” sindir Kepala Desa, “jakunmu itu lho, tidak bisa menipu, hahaha ….”

Namun hingga setua ini Jamal alias Jamila enggan mengakui kenyataan tubuhnya. Semenjak akil balik dia tidak pernah merasakan dirinya sebagai laki-laki. Jamal remaja tidak pernah menyelesaikan sekolah menengahnya. Dia tidak betah terus menerus dirisak oleh kawan-kawan juga gurunya. Mereka memanggilnya banci.

Ayahnya pun gemar memukulinya dan ibunya tidak berdaya. Ayahnya tidak bisa menerima Jamal yang berperilaku gemulai seperti perempuan. Dia mendidik Jamal kecil dengan penuh kekerasan karena keyakinannya agar Jamal bisa menjadi lelaki tulen. Dia berpikir, bila sering dipukuli maka Jamal akan berubah menjadi seperti lelaki.

Jamal remaja yang tidak pernah ingin menjadi laki-laki, memilih kabur dari rumah. Dia lebih senang dengan jati diri Jamila-nya. Dia merasa lebih nyaman memasak dan memakai daster yang sejuk. Jamila cukup beruntung, dia tidak pernah terpaksa melacur. Kebisaannya memasak menjaga hidupnya dengan tetap bekerja puluhan tahun dari warung hingga rumah makan. Jamila piawai mencampur bumbu dan mengolahnya sehingga tiap-tiap rempah mengeluarkan rasa terbaiknya.

Namun kini, demi agar ongkos pengobatannya bisa ditanggung negara, akhirnya Jamal luluh. Dia menyerah. Dia nyaris mendapatkan KTP laki-laki untuk mengurus BPJS. Namun takdir berkata lain. Hidupnya telah lebih dahulu luluh sebagai korban pemaksaan jati diri. Kematian adalah cara termurah untuk menghemat biaya pengobatan seorang waria sakit, penganggur, dan putus asa.

***

Sambil menunggui jasad Jamila di rumahnya, Soumi mengenang sahabatnya. Dia berkenalan dengan Jamila di rumah makan itu, sebagai rekan kerja. Namun pertemuan itu sangat bermakna. Jamila membuat Soumi mampu menuntut kembali hidupnya. Soumi masih ingat bahwa Jamila adalah tukang masak yang diandalkan di rumah makan itu. Dia baik pada sesama rekan kerja. Dia kakak yang baik bagi Soumi. Sayangnya, di akhir hidupnya, Jamila harus berjuang keras membujuk negara untuk mendapatkan pengakuan dengan jenis kelamin ketiganya. Perjuangannya itu berpacu dengan penyakitnya. Sayang, penyakitnya berjalan lebih cepat dari pada perjuangannya. Saat Jamila mau mengalah menerima pilihan antara dua jenis kelamin yang disediakan oleh negara, penyakitnya sudah semakin genting.

Jamila yang selama ini mendukung Soumi dan menghibur hatinya. Dia yang menyembuhkan luka-luka hati Soumi. Jamila yang memperkenalkan Soumi pada banyak paguyuban orang-orang berjenis kelamin ketiga. Dari paguyuban itu, Soumi tahu bahwa Tuhan tidak hanya menciptakan siang dan malam, tetapi ada juga fajar dan senja seperti Jamila dan kawan-kawan. Mereka perempuan yang terjebak dalam tubuh lelaki, atau sebaliknya. Bahkan yang seperti Soumi, yang tidak merasa aman sebagai perempuan tetapi merasa jijik sebagai lelaki pun ada dan mereka saling menguatkan jati diri.

“Bukankah fajar dan senja yang membuat semesta menjadi lebih indah?” kata mendiang Jamila pada Soumi dulu, “Jika hanya ada siang dan malam maka bumi akan membosankan.”

Soumi benar-benar mencamkan perkataan Jamila itu. Dia mulai bangkit melukisi lagi kain mota hidupnya dengan berbekal kalimat itu. Soumi merasa dia berhak pula hidup di dunia sebagai ciptaan Tuhan yang setara dengan yang lain. Dia boleh saja tidak merasa sebagai laki-laki atau perempuan, tapi Soumi adalah manusia, itu yang ditekankan Jamila.

“Aku juga manusia.” tegas Soumi saat itu.

“Dulu, sosok banci adalah wajar di pertunjukan wayang kulit,” cerita Jamila pada Soumi dalam salah satu obrolannya,

“Betulkah?” tanya Soumi.

“Iya dan ketahuilah wayang kulit adalah cerminan dari masyarakat kita.”

“Lelaki dan perempuan sama-sama dibutuhkan dalam hidup ini.” lanjut Jamila, “Batari Durga yang garang, sebelumnya adalah Dewi Uma yang lembut.”

“Ya, Dewi Uma moksa menjadi Batari Durga yang raksasa dalam rangka melawan nafsu Batara Guru.” timpal Soumi lamat-lamat. Dia pernah mendengar kisah itu. Kisah perubahan jati diri Dewi Uma itu yang mendorong Soumi menjadi seperti sekarang ini. Dia menolak sebagian sisi perempuan dirinya yang lemah dan berusaha menambalnya dengan sisi lelakinya yang kekar. Namun Soumi tidak serta-merta menganggap dirinya lelaki. Dia beralih menjadi jenis kelamin ketiga yang membuatnya menjadi lebih nyaman sekarang ini. Dia sekarang lebih siap bila harus membela diri jika dirundung Karyo lagi.

“Hidup kita pun seharusnya begitu, siapapun setara di muka bumi ini dan harus saling menjaga,” pungkas Jamila.

Namun rupanya, cita-cita Jamila tidak terjadi hingga ajal menjemputnya. Kawan-kawannya tetap harus mengasongkan tubuh Jamila, mencari kampung yang masih mau menerima jenazah waria di kuburan milik mereka. Sedikit kampung yang mau menerima pemakaman waria. Mereka menganggapnya sebagai aib. Akhirnya sebuah kampung di perbatasan Kota Yogya dan Bantul mau menerima, itupun dengan biaya bedah bumi yang tidak mudah ditanggung oleh kawan-kawan waria yang terdampak kemelut keuangan pada waktu wabah covid ini.

***

Wabah ini diikuti oleh masalah keuangan yang menekan semua pengeluaran warga. Beberapa bidang usaha bahkan tidak dapat bertahan memperebutkan pelanggan yang semakin sedikit. Seperti rumah makan tempat Soumi dan Jamila bekerja. Sebagian besar mahluk indah jenis kelamin ketiga ini bekerja di bidang jasa. Jasa-jasa itu adalah kebutuhan yang akan disingkirkan warga dari senarai belanjanya bila pendapatan menurun. Perempuan mengurangi belanja perawatan tubuh di salon. Pria hidung belang tidak lagi beruang untuk membiarkan mulut waria memuaskan kelaminnya. Tidak ada uang kecil untuk waria pengamen.

“Ih, maharani amat, mengubur bangkai saja semahal itu ongkosnya?” kata Shinta, waria yang menawarkan jasa di Perlimaan Kalasan.

“Ah, kau jangan sirsak, cin, jangan pelita hati begitu, ini demi Kak Jamila.” sanggah Diana bendahara patembayan saat menghimpun saweran agar Shinta tidak culas dan pelit.

Akira kan sudah lama tidak laku nyebong!” aku Shinta.

“Ah … nggak percaya, kau tiap malam berapose begitu?” Dewi menawar.

“Covid, Boo … akira jual harga obral ini ….” kata Shinta sambil mengangsurkan uangnya yang kumal.

“Cari BLT sana, kan pemerintah sudah bagi-bagi enam ratus kepeng.” sahut Dewi sambil menyambar uang Shinta.

“Nggak dapat BLT, Booo …,” nyinyir Shinta, “Aku nggak ada KTP.”

“Ahhh … kau sembuh dulu dari banci, baru bisa punya KTP,” Dewi mengelak.

“Emang banci itu penyakit, koq pakai sembuh? Kata Dinsos, itu penyakit kemasyarakatan,” pungkas Shinta masih dengan nada nyinyir.

Soumi yang dari tadi menguping pembicaraan para pelayat di rumah Jamila membatin, Huh, penyakit kemasyarakatan ….

Bagi Soumi yang sudah belajar dari Jamila ini adalah akar masalahnya. Selama jenis kelamin ketiga dianggap sebagai penyimpangan yang harus diluruskan oleh negara maka selamanya nasib Jamal-Jamila yang lain akan selalu begitu. Mereka akan terus diburu dan dipaksa untuk menerima jati diri yang hanya memperhitungkan bentuk alat kelamin yang menempel di tubuh. Padahal pengakuanlah yang dibutuhkan Jamila dan kawan-kawan.

“Waktu fajar dan senja memang sempit, karena itu mereka yang terlahir tidak siang dan tidak malam adalah kelompok yang terbatas jumlahnya.” Soumi menderas mengulang perkataan Jamila tentang kaum waria.

“Namun bukan berarti kita bisa ditindas”, berontak batin Soumi, “hidupku pun akan seperti Jamila, akan kuhabiskan untuk melawan!”

Soumi teringat bahwa Jamila pernah bercerita bahwa di Sulawesi ada adat yang pernah mengakui lima jenis kelamin secara setara di masyarakat. Di Bugis selain laki-laki dan perempuan, ada calalai yang bertubuh perempuan tetapi mengambil peran-peran laki-laki dalam kesehariannya. Ada juga calabai yang memerankan peran perempuan namun bertubuh lelaki. Dan jenis kelamin kelima, adalah kelompok para bissu yang tidak laki-laki maupun perempuan. Soumi merasa nyaman dengan kelompok ini. Kelimanya pernah diakui disana secara adat, meski adat sekarang sudah sering digugat.

“Orang-orang hanya belum mengerti,” tiba-tiba suara Jamila menyahut di kepala Soumi. Dengan sangat jelas, Soumi seolah melihat sosok Jamila. Dia melihat Jamila melempar senyum.

“Jamila ….” sapa Soumi lirih.

“Kau hanya perlu terus mewartakannya.” kembali suara Jamila mengiang.

“Akan kulakukan sepenuh hidupku,” janji Soumi mantap.

“Kita semua tercipta setara,” Jamila yakin sebelum bayangannya kembali memudar.

Soumi kembali nelangsa kehilangan Jamila yang seumur hidupnya gagal berdamai dengan khalayak.

Bisik Soumi memandang tubuh kaku Jamila yang sedang menunggu pengangkutan ke liang lahat. Hati Soumi merasakan sedemikian, pelupuk matanya menghangat seketika. Air matanya kemudian merebak. “Jamila, aku tahu, kau ingin mati sebagai perempuan.”

*****

Yogyakarta, Mei 2021

 

 

 

Choose Site Version
English   Indonesian