Gregorius Budi Subanar teaches the Doctoral Program in Cultural Studies at the Sanata Dharma University in Yogyakarta. Subanar writes fiction as well as nonfiction.
The following are some of his works:
Kinro Hoshi Pendewasaan Gereja Katolik di Indonesia Masa Pendudukan Jepang 1942-1945. (Penerbit Kanisius, 2024). Kisah-kisah Santa Theresia Kanak-kanak Yesus, (Penerbit Abhiseka Dipantara, 2022). Serat saking Rome: Dari Natal ke Natal (Penerbit Universitas Sanata Dharma, 2019). Mata air Air mata Kota (Penerbit Abhiseka Dipantara, 2019). Soegija A Child of Bethlehem van Java (Penerbit Universitas Sanata Dharma, 2015). Hilangnya Halaman Rumahku (Penerbit Universitas Sanata Dharma, 2013). Kilasan Kisah Soegijapranata (Penerbit KPG Kepustakaan Populer Gramedia, 2012). Soegija. Catatan Harian Seorang Pejuang Kemanusiaan (Penerbit Galang Press, 2012). This work was then filmed by Studio Audio Visual PUSKAT with Garin Nugroho as the director.
He can be reached at: gbsbanar@usd.ac.id
****
Impian Sulastri
Sulastri dibujuk ibunya untuk tetap tinggal di rumah yang ada di desa Sayangan, di pinggiran kota Wates, Kulon Progo. Padahal, bersama teman-teman sekolahnya, dia sudah berencana untuk berangkat ke Yogya. Setelah lulus Sekolah Rakyat, dia mau mendaftar di Sekolah Guru Pertama seperti Sugito. Kakak laki-lakinya itu sudah lima tahun tinggal di kota Yogya.
Impian menjadi guru sangat lekat dalam benak Sulastri. Rencana hidupnya memang dipengaruhi cerita Sugito, yang sudah di bangku kelas satu Sekolah Guru Atas. Setiap kali pulang ke desa, Sugito membawa kisah baru. “Asramaku itu dekat sekolah. Jalan kaki sepuluh menit. Teman-temanku datang dari berbagai daerah di Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Jawa Timur. Yang dari luar Jawa juga ada beberapa orang. Tetapi penampilannya hampir mirip – serba sederhana. Pakaiannya seragam, baju putih dimasukkan ke celana pendek berikat pinggang yang juga putih. Bersepatu dengan kaos kaki. Tidak seperti kamu dan teman-temanmu di desa. yang bersekolah tidak pakai sepatu.”
Sulastri mendengarkan cerita kakaknya dengan penuh kekaguman. Hatinya tergerak untuk menjadi seperti murid-murid yang diceritakan kakaknya. Tetapi keinginan itu tidak diungkapkannya.
Sugito masih menambahkan cerita tentang sekolahnya. Tentang suasana kelas saat belajar, dan tentang kegiatan kerja bakti di luar kelas. Berulang kali hal-hal mengenai sekolah itu diceritakannya.
Ada dorongan lain yang ikut memupuk keinginan Sulastri. Dorongan dari seorang ibu guru kenes sekaligus keras. Seorang guru, Bu Lestari namanya, mewarnai hari-hari Sulastri selama di Sekolah Rakyat. Kehadiran Bu guru itu sangat membekas pada ingatan Sulastri. Saat mengajar, suaranya keras – sungguh berbeda dengan saat mengobrol. Berbagai mata pelajaran diajarkannya sendiri – dari hitung-menghitung yang menggunakan angka, ilmu hayat yang memperkenalkan makhluk hidup, dan ilmu bumi yang memperkenalkan peta tempat-tempat di Nusantara beserta kehidupan penduduknya. Betapa banyak pengetahuan yang dikuasainya, begitu batin Sulastri. Setiap kali dia berhadapan dengan gurunya, ada perasaan takut sekaligus kagum. Rasa kagum dan hormat itulah yang membuat Sulastri menggebu untuk mendaftarkan diri di sekolah guru di kota.
“Kamu di sini saja ya, tidak perlu ke kota. Tak perlu mendaftar masuk sekolah guru,” kata ibu Sulastri yang duduk di kursi panjang. Tangan kanannya berusaha meraih tangan Sulastri untuk diajak duduk di sebelahnya.
Sulastri menarik tangannya mengelak. Dia diam, agak membuang muka, setengah ngambek. Perkataan ibunya diabaikan.
Tanggapan Sulastri itu tidak menyurutkan ibunya untuk membujuknya. Ibunya berdiri lalu merangkul pundak anaknya, “Cukup dua kakakmu. Kanda dan yundamu sudah ada di sana. Nanti aku bakal sendiri di sini. Tak ada anak yang bisa membantuku mendampingi adikmu yang sangat nakal itu.”
“Tapi ini demi masa depanku, Bu. Pokoknya aku harus sekolah guru di Yogya.” Lastri melangkah pergi meninggalkan ibunya untuk menghindar dari bujuk rayunya.
***
Setelah kedatangan Jepang pada tahun 1942, guru-guru pribumi mengambil alih peran para guru Belanda yang selama zaman penjajahan Belanda menjadi atasannya. Guru pribumi sekarang menjadi orang-orang kepercayaan opsir Jepang untuk melaksanakan pengajaran anak pribumi, baik di kota sampai di pelosok, baik di kelas sekolah rakyat sampai sekolah menengah atas. Guru-guru pribumi pengganti guru-guru Belanda itu juga mengajar di sekolah calon guru atau sekolah kepandaian putri.
Hampir semua guru harus mengikuti Nippongogakko, pengajaran bahasa Jepang, yang diselenggarakan di berbagai tempat. Pengajarnya juga orang-orang pribumi yang telah menjalani pendidikan khusus. Untuk mengikuti dan menyelesaikan kursus bahasa Jepang, ada tahap-tahap yang harus ditempuh. Seseorang akan mulai kursusnya pada penempatan gyoku, tingkat lima, tingkatan yang paling rendah. Demikian seterusnya, sampai seseorang mencapai tingkat nikyu, tingkat dua. Ini merupakan tingkatan yang tertinggituk pribumi, tingkatan yang memungkinkan seseorang untuk bisa menjadi guru pengajar bahasa Jepang. Selain itu pejabat pengurus sekolah harus mengikuti pelajaran lainnya – pelajaran yang berisi ihwal kesetiaan. Dengan demikian, tokoh-tokoh pribumi yang diberi kepercayaan untuk mengajar tetap terikat dan patuh pada Jepang sebagai penguasa baru.
Meski keadaan berubah-ubah, pada awal pendudukan Jepang di Indonesia, kedua kakak Sulastri tetap bisa sekolah. Tempat-tempat pendidikan yang ada masih diminati oleh anak-anak pribumi. Setelah penjajah Belanda digantikan oleh penjajah Jepang, cita-cita para murid – menjadi guru yang mandiri atau menjadi orang yang terampil – tetap berkobar. Apalagi ada gerakan yang disebut Jepang Saudara Tua Asia sebagaimana terwujud dalam Gerakan Tiga A, Cahaya Asia – Pelindung Asia – Pemimpin Asia
***
Akhirnya, ibu Sulastri menyerah.
Sudah dua minggu Sulastri berada di asrama. Namun, dia belum bisa tidur nyenyak. Ada delapan anak perempuan dalam satu kamar dengan empat tempat tidur susun berderet-deret.
Berhubung kamarnya tidak terlalu besar, tempat tidurnya disusun berdekatan. Bisa dibayangkan penghuni kamar akan saling bercerita. Kamar pun tidak sepi dari bisik-bisik cerita dan keluhan penghuninya. Mereka tidak bisa tidur pulas karena alas tidur bukannya kasur tebal tetapi tikar tipis. Dengan begitu dara-dara belia itu tidak surut mengobral kisah.
Di asrama, Sulastri merasa kehilangan suasana rumah dan desanya. Dia mendapat teman sekamar bernama Ivon yang datang dari Sulawesi Utara, tepatnya Menado, Minahasa. Sulastri merasa senasib dengan teman sekamarnya. Bedanya, Sulastri tinggal di asrama atas kemauannya sendiri, sementara Ivon diajak oleh pamannya yang mengungsi dari tanah kelahirannya. Sebagai seorang serdadu Belanda, paman Ivon dianggap sebagai kaki tangan Belanda sehingga dia terpaksa melarikan diri dari tempat asalnya. Di dalam kamar tidur, kedua gadis remaja itu mengobrol sampai larut malam.
“Sstt, harap diam. Sudah malam; tidak boleh ada suara obrolan. Atau, besok kamu kena hukuman,” tegur ibu pamong asrama yang tengah berkeliling bertugas.
Setelah kata-kata ancaman itu, tak ada lagi suara yang terdengar, suasana berubah menjadi sunyi.
***
Kepengurusan asrama baru disusun setelah masa perkenalan selesai. Setidaknya hal itu, memperkenalkan warga penghuni asrama pada keadaan sekeliling dan sesama warga, butuh waktu sebulan. Warga asrama pun lalu mulai saling mengenal satu sama lainnya, dan selanjutnya bergaul lebih akrab. Meski terpisah dari keluarga, murid-murid baru tidak merasa kesepian, teman baru mereka dapat memberi rasa aman.
Beberapa jenis kepengurusan ditawarkan. Kepengurusan ini terdiri dari petugas-petugas, yaitu petugas yang mengurusi ruang makan dan dapur, ruang cuci dan kamar mandi, kamar tidur dan gang, kebun dan halaman, dan aula belajar dan perpustakaan. Pembagian tugas untuk warga asrama itu untuk melatih ketertiban hidup dan pelayanan pada sesama. Anak-anak baru, istilah untuk menyebut warga baru asrama, sudah langsung dilibatkan. Inilah tahap khusus yang harus dilewati oleh semua anak-anak asrama.
Sulastri memilih jadi petugas kamar makan dan dapur. Satu pilihan yang semata-mata digagas oleh ingatan pada kakak perempuannya. Setiap kerja di dapur, Sumiwi – yang tahu Sulastri tidak suka memasak – mengajak adiknya untuk membantu. “Sini, Lastri, kamu bantu aku untuk masak – sambil kuajari memasak dengan resep-resep masakan, tidak asal memasak.”
“Nggak mau Mbak, aku masih nemani Adi.” Sulastri berdalih menemani adik satu-satunya. Dengan cara itu, Sulastri terbebas dari tugas di dapur.
Sumiwi yang lebih pendiam ketimbang Sulastri, tidak mampu memikat hati Sulastri adiknya yang lebih suka berkegiatan di luar.
Setelah mengalami hidup di asrama, cara berpikir Sulastri berubah. Dia sebelumnya tidak mengira bahwa dapur dan kamar makan ternyata menjadi pusatnya kehidupan. Pengalaman yang meyakinkannya mengenai betapa pentingnya dapur itu justru sangat terasa saat seluruh penghuni asrama berada di bawah ancaman perang yang berkobar saat itu.
Sulastri terkenang Sumiwi, kakak sulungnya. Sumiwi sangat berbeda dengan kakak laki-lakinya. Sumiwi tak banyak bercerita tetapi banyak bertindak. Setiap pulang ke desa, Sumiwi mengajari ibunya untuk menyulam dengan benang wol. Ini merupakan ketrampilan baru yang diajarkan Sumiwi. Biasanya, kaum perempuan di desa kegiatan sehari-harinya menganyam bilah-bilah bambu atau membuat tali dari sabut kelapa. Kalau tidak mengajari menyulam, Sumiwi akan ikut kerja di dapur, memasak bersama seorang pembantu di rumah mereka. Dengan menyediakan makanan untuk keluarga dia merasa telah ikut “menopang” hidup keluarganya.
***
“Siapa kemarin yang meninggalkan handuk tidak bernomor di tali jemuran?” Bu Atmini, ibu asrama mengacung-acungkan sehelai handuk di tangannya.
Anak-anak asrama baru selesai makan siang. Mereka, yang masih duduk melingkari meja makan, langsung diam menundukkan kepala, saling melirik satu sama lain.
Akhirnya, setelah kediaman yang berlangsung lebih dari semenit, satu anak yang duduk di dekat Sulastri berdiri, mengaku, dan perlahan menghampiri Bu Atmini untuk memohon maaf.
Dengan suara lantang membahana, Bu Atmini memberi peringatan, “Harap diingat-ingat, semua barang pribadi dari ember, handuk, pakaian sampai pakaian dalam, semua harus diberi sulaman nomer sesuai nomor urut kalian masing-masing. Mengerti?”
“Mengerti, Bu,” jawab mereka hampir serentak.
“Jangan sampai terulang lagi. Siapa yang masih melakukan kesalahan semacam ini, akan mendapatkan hukuman. Para petugas kamar mandi dan ruang cuci harus ikut bertanggung jawab menjaga ketertiban.” Setelah menyampaikan peringatan itu, Bu Atmini membalikkan badan dan melangkah cepat meninggalkan ruang makan.
“Hati-hati dengan kata-kata Bu Atmini,” kata seorang kakak kelas Sulastri yang ada di ruang itu. “Dia akan menghukum kalian sesuai dengan peringatannya.” Semua anak asrama menutup mulut mendengarkan. “Kita ini seasrama banyak jumlahnya. Bisa kacau kalau barang-barang kita tertukar gara-gara tidak diberi nomer.”
“Maaf, Mbak. Saya belum terbiasa untuk memberi tanda,” kata anak yang tadi maju ke depan ibu asrama.
“Ya, sudah. Nanti langsung disulam angka yang menunjukkan nomor urutmu. Kalau tidak, kamu bisa dihukum. Termasuk para petugas yang seharusnya mengawasi bakal ikut terkena hukuman,” katanya mengingatkan.
“Ya, Mbak,” jawab anak itu takut-takut.
Inilah tahap penegakan tata tertib dan aturan asrama. Dengan begitu warga asrama diharapkan bisa mengatur diri sendiri. Tidak jarang, anak asrama sebelumnya tidak mengenal WC dan kamar mandi tertutup. Di desa, alamnya serba bersahabat. Urusan mandi dan keperluan lainnya semua dilakukan di sekitar sungai. Berbeda dari kehidupan di desa, di asrama yang serba tertutup, sebagian besar acaranya – mandi, makan, belajar di ruang kelas, dan seterusnya — dilakukan bersama dan dengan jadwal teratur.
***
“Ayo, Ivon, sekarang giliranmu menghabiskan jagung itu,” kata Mbak Margi, murid paling tua dan dituakan di meja makan itu.
“Ya, Kak.” Ivon terlihat agak bergegas mengunyahnya.
Ada delapan orang di satu meja, mereka makan saling berhadapan. Hanya piring Ivon yang masih berisi butiran jagung. Piring yang lain sudah rapi ditumpuk dipinggir. Semula, semua piring berisi butiran jagung antara satu atau dua sendok makan. Lalu mereka bersepakat, tiap pagi semua jagung ditampung dalam satu piring. Dengan demikian, setiap orang mendapat giliran sarapan jagung seminggu sekali.
Sulastri yang duduk berhadapan dengan Ivon sebenarnya merasa gemas terhadapnya. Berkali-kali Sulastri melirik pada sahabat barunya itu tanpa berbicara sepatah kata pun. Dari cara menyendok dan mengunyahnya terlihat Ivon tidak terbiasa makan jagung. Bahkan mungkin Ivon tidak pernah makan jagung. Berbeda dengan dirinya yang setiap kali ikut memipili jagung yang disimpan setelah panen. Jagung adalah bagian dari kehidupan Sulastri. Sebagai lurah desa, bapaknya tidak mendapat gaji dari pemerintah. Sebagai gantinya, lurah mendapat jatah hak pengolahan tanah baik sawah padi maupun kebun yang ditanami jagung. Ada tanah bengkok milik desa yang digunakan untuk menopang penghidupan pejabat pemerintahan tanpa gaji seperti itu.
Hidup Sulastri ditopang oleh jagung. Sulastri bisa memperkirakan berapa butir isi tiap tongkol jagung. Dia memipili sambil diajari menghitung butir-butir jagung oleh pembantu rumah tangga keluarganya. Satu tongkol melingkar ada antara sepuluh sampai lima belas butir, sedangkan memanjang antara dua puluh lima sampai tiga puluh butir. Di desanya, Sulastri tidak pernah kekurangan makan. Namun di asrama ini, sungguh berbeda keadaannya.
***
Hari itu ada kegiatan kinro hoshi. Hampir setiap minggu, anak-anak diarahkan untuk kerja bakti di tempat-tempat umum. Kali ini mereka membersihkan lapangan rumput. Mereka ditugaskan untuk mencabuti rumput dan semak-belukar sambil melangkah membungkuk mundur.
Pagi-pagi di sela-sela jam belajar di kelas, Bapak dan Ibu Guru mengumpulkan murid-murid di pinggir lapangan. Lapangan itu cukup jauh letaknya dari sekolah dan asrama. Matahari mulai bersinar membakar kulit. Tidak ada pohon peneduh di sekitar lapangan. Hampir semua tanaman hanyalah rumput dan semak-belukar.
Dengan diawasi beberapa tentara Jepang, para guru mengatur anak-anak berdiri berderet-deret. Setiap anak ditempatkan berjajar dengan jarak sekitar sepanjang rentangan tangan.
Saat semua sudah siap, peluit ditiup oleh seorang guru yang bertugas memberi aba-aba. Anak-anak mulai bekerja mencabuti rumput dan semak belukar secara mundur dengan alat seadanya. Tidak ada yang bersenda gurau. Semua bekerja teratur. Ini pelajaran istimewa. Bekerja tertata rapi walau dilakukan secara bersama-sama.
Murid-murid bekerja seperti halnya petani yang menanam padi di sawah, melangkah mundur. Konon, para pengawas Jepang yang pertama memperkenalkan cara kerja di sawah semacam itu – menanam padi secara larikan. Kalau geraknya maju, tentu akan menginjak-injak hasil kerjanya. Cara menanam mundur juga membantu penanam memusatkan perhatian, membatasi wilayah kerjanya, dan menghindarkan mereka untuk mengobrol. Kalau hasil pekerjaan penanam terlihat melenceng, meski cuma sedikit, semua bibit padi yang sudah ditanam akan dicabuti oleh pengawas yang ditugasi mengawasi tanpa pandang bulu. Lalu, penanam itu harus mengulang menanam dari awal.
Dalam pelajaran di kelas, secara sembunyi-sembunyi, para guru menyampaikan pesan khusus kepada murid-murid. Mereka menyiasati adanya pengawasan Sido-in, Pengawas Jepang Pengajaran Kota yang terkenal kekejamannya. Beberapa kali, Ibu Guru menghela nafas kemudian menjelaskan, “Memang keadaan sekarang ini darurat. Muatan pelajaran di kelas tidak banyak dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Pemerintah Jepang senang memanfaatkan tenaga murid untuk bekerja. Coba, kalian menemukan pelajaran apa yang ada di lapangan. Tidak diajarkan guru, tidak dengan buku bacaan.” Agaknya guru itu dilanda keraguan untuk berterus terang. “Tapi kalian mengamati lapangan. Mengamati antar teman. Kalian berbuat, kalian bertindak,” kembali Ibu Guru menghela nafas sebelum melanjutkan, “Kalian harus tetap berpikir. Jangan mau menjadi buruh tani. Kalian tidak akan dibayar. Kalian adalah murid, calon guru. Walau kerja dengan otot, tapi kalian tetap harus berpikir dengan otak.” Kata-kata Bu Guru itu terngiang di ingatan Sulastri.
***
Setiap kali Sulastri bertugas membereskan piring, membawanya dari ruang makan dan mencucinya bersama kelompoknya, dia mencuri waktu untuk dapat bercakap-cakap dengan juru masak asrama. “Mbok, kalau masak jagung biasanya berapa takarannya?” Sulastri bertanya sambil membilas piring yang baru disabuninya.
“Hush, Nak, jangan tanya-tanya. Nanti dimarahi ibu asrama,” kata juru masak. Rupanya dia khawatir ketahuan memberikan keterangan mengenai pengeluaran dapur.
“Saya di sini sedang bertugas membersihkan dan mencuci piring. Jadi tidak menyalahi aturan,” jawab Sulastri. “Berapa panci, Mbok, takarannya?” Tanyanya lagi.
“Pokoknya irit, tidak boleh ada makanan yang dibuang. Harga makanan serba mahal,” jawab juru masak.
“Mana ada sisa makanan? Pembagiannya sedikit sekali.”
“Ya, memang. Persediaan bahan makan sangat sedikit. Itu ada beberapa karung di gudang persediaan. Kita harus serba mengirit. Jaman susah, Nak.” Katanya menghindar.
“Di desa, saya sering membantu ibu saya memipili jagung. Kami tidak kekurangan makan, Mbok.” Sulastri mencoba berbasa-basi untuk tetap dapat bercakap-cakap.
“Di sini orangnya banyak, Nak. Kalian harus prihatin. Di rumah saya, keluarga juga hidup prihatin. Kalau tidak irit nanti tidak akan cukup buat makan sebulan.”
“Saya kuatir nanti anak-anak asrama kekurangan gizi, Mbok,” keluh Sulastri.
“Iya, memang Nak. Tapi, ibu asrama bilang itu sudah cukup. Anak-anak asrama tidak akan sakit. Jadi saya percaya dan ikut perintahnya.”
“Ya, Mbok. Moga-moga saya dan teman-teman tetap sehat. Terima kasih, Mbok.” Sulastri menyudahi percakapannya. “Sehat ya, Mbok.” Sulastri menyalami juru masak.
“Ya, Nak. Kamu juga sehat.”
Setelah menyelesaikan tugas dapur, Sulastri mendatangi Ivon. Dia menanyai sahabatnya mengapa tidak menghabiskan sarapan jagungnya.
“Maaf, saya tidak terbiasa makan jagung. Di Minahasa tempat asal saya, kami terbiasa dengan bubur ketela. Ketela rebus yang dilunakkan lalu dicampur sayur. Terasa lunak, dan segar. Apalagi dimakan saat masih hangat,” kata Ivon pelan.
“Kamu bisa memberikan kepada teman kita yang lain. Jangan begitu caranya. Kamu menyia-nyiakan pemberian,” kata Sulastri mengingatkan.
“Aku tidak bermaksud menyia-nyiakan,” kata Ivon membela diri dengan suara tinggi.
Sulastri tampak menghela napas.
“Maafkan aku,” Ivon menyadari adanya nada kejengkelan pada suaranya.
Mereka lalu berangkulan erat.
***
Hari itu ada kegiatan kinro hoshi. Hampir setiap minggu, anak-anak diarahkan untuk kerja bakti di tempat-tempat umum. Kali ini mereka membersihkan lapangan rumput. Mereka ditugaskan untuk mencabuti rumput dan semak-belukar sambil melangkah membungkuk mundur.
Pagi-pagi di sela-sela jam belajar di kelas, Bapak dan Ibu Guru mengumpulkan murid-murid di pinggir lapangan. Lapangan itu cukup jauh letaknya dari sekolah dan asrama. Matahari mulai bersinar membakar kulit. Tidak ada pohon peneduh di sekitar lapangan. Hampir semua tanaman hanyalah rumput dan semak-belukar.
Dengan diawasi beberapa tentara Jepang, para guru mengatur anak-anak berdiri berderet-deret. Setiap anak ditempatkan berjajar dengan jarak sekitar dua sampai tiga meter, sepanjang rentangan tangan.
Saat semua sudah siap, peluit ditiup oleh seorang guru yang bertugas memberi aba-aba. Anak-anak mulai bekerja mencabuti rumput dan semak belukar secara mundur dengan alat seadanya. Tidak ada yang bersenda gurau. Semua bekerja teratur. Ini pelajaran istimewa. Bekerja tertata rapi walau dilakukan secara bersama-sama.
Murid-murid bekerja seperti halnya petani yang menanam padi di sawah, melangkah mundur. Konon, para pengawas Jepang yang pertama memperkenalkan cara kerja di sawah semacam itu – menanam padi secara larikan. Kalau geraknya maju, tentu akan menginjak-injak hasil kerjanya. Cara menanam mundur juga membantu penanam memusatkan perhatian, membatasi wilayah kerjanya, dan menghindarkan mereka untuk mengobrol. Kalau hasil pekerjaan penanam terlihat melenceng, meski cuma sedikit, semua bibit padi yang sudah ditanam akan dicabuti oleh pengawas yang ditugasi mengawasi tanpa pandang bulu. Lalu, penanam itu harus mengulang menanam dari awal.
Dalam pelajaran di kelas, secara sembunyi-sembunyi, para guru menyampaikan pesan khusus kepada murid-murid. Mereka menyiasati adanya pengawasan Sido-in, Pengawas Jepang Pengajaran Kota yang terkenal kekejamannya. Beberapa kali, Ibu Guru menghela nafas kemudian menjelaskan, “Memang keadaan sekarang ini darurat. Muatan pelajaran di kelas tidak banyak dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Pemerintah Jepang senang memanfaatkan tenaga murid untuk bekerja. Coba, kalian menemukan pelajaran apa yang ada di lapangan. Tidak diajarkan guru, tidak dengan buku bacaan.” Agaknya guru itu dilanda keraguan untuk berterus terang. “Tapi kalian mengamati lapangan. Mengamati antar teman. Kalian berbuat, kalian bertindak,” kembali Ibu Guru menghela nafas sebelum melanjutkan, “Kalian harus tetap berpikir. Jangan mau menjadi buruh tani. Kalian tidak akan dibayar. Kalian adalah murid, calon guru. Walau kerja dengan otot, tapi kalian tetap harus berpikir dengan otak.” Kata-kata Bu Guru itu terngiang di ingatan Sulastri.
***
Tahun 1950, Sulastri lulus Sekolah Guru Atas dan ditempatkan mengajar di sebuah Sekolah Rakyat di kota Solo.
Sulastri merasakan beberapa perbedaan mendasar antara dulu sebagai murid dan sekarang menjadi guru. Dia pernah dididik sebagai murid sekolah rakyat yang masih diawasi oleh pendidik-pendidik Belanda. Kemudian, menjadi murid sekolah calon guru diawasi kaki tangan Jepang. Sekarang, saat menjadi guru, Sulastri tidak lagi diawasi oleh Belanda atau Jepang. Dia menjadi seorang guru muda yang mengabdikan dirinya pada pendidikan anak-anak bangsa sendiri yang telah merdeka.
Setahun kemudian, Sulastri menikah dengan seorang guru sekolah rakyat yang bertugas di kota Semarang. Mereka sama-sama lulusan Sekolah Guru. Sulastri pun lalu mengikuti suami di tempat tinggalnya. Keduanya sama-sama mengajar di Semarang. Seolah didorong semangat muda, mereka mampu membagi waktu, sehingga di sela pekerjaannya, mereka terus belajar meningkatkan jenjang pendidikannya. Bersama suaminya, Sulastri bisa meraih gelar sarjana pendidikan. Sang suami menjadi guru bagi anak-anak Sekolah Menengah Atas. Sulastri memilih menjadi guru di sekolah guru setempat.
***
Puluhan tahun telah berlalu. Tahun 1990, Sulastri telah menyelesaikan tugasnya sebagai guru. Empat puluh tahun lamanya dia dan suaminya mengabdikan diri sebagai guru. Suatu masa pengabdian yang sangat panjang.
Mereka dikaruniai dua putra dan dua putri. Pada masa tuanya, mereka kembali hidup di Yogya. Anak-anaknya sebagian besar sudah menikah dan telah menyebar ke sejumlah kota di Jawa dan Sumatra. Mereka telah memberikan beberapa cucu.
Kebetulan istri anak bungsunya baru saja melahirkan. Sulastri, setelah meminta izin suaminya, pergi untuk menemani anak dan menantunya, sekaligus mendampingi cucunya, di Jakarta. Tugas seorang ibu bagi anaknya dan nenek bagi cucunya ini menjadi penyubur bagi kesehatan jiwanya. Hiburan pada masa tuanya.
***
Masih mengenakan daster pada pagi hari, Nenek Sulastri melayani cucunya yang minta dimasakkan popcorn dari bahan siap saji. Menantu perempuannya masih di rumah sakit sesudah melahirkan anaknya yang ketiga. Susah mendapatkan pembantu rumah tangga. Makanya Sulastri menjadi Uti, eyang putri yang menggantikan peran ibu.
“Uti, itu bungkusnya dimasukkan ke microwave. Ditunggu dua menit.”
“Ya, sebentar, Nenek akan masukkan,” kata Nenek Sulastri mengikuti petunjuk cucunya.
“Setelah bunyi kling, selesai,” cucunya memberi petunjuk lagi.
“Sekarang dikocok-kocok isinya; lalu dimasukkan lagi supaya bisa menjadi popcorn.”
“Ya,” katanya lagi mengikuti panduan cucunya.
Setelah microwave berbunyi, si cucu berteriak, “Uti! Uti! Popcorn sudah jadi. Sekarang Uti ikut makan popcorn.”
Uti Sulastri menuangkan popcorn yang masih hangat ke dalam mangkok. Pandangan matanya tertegun dan berkaca-kaca memandangi biji-biji jagung yang merekah putih menjadi popcorn. Butiran popcorn di tangannya itu membawanya pada kenangan semasa remaja yang pernah dialaminya dulu, terutama saat bersitegang dengan Ivon sahabatnya di ruang asrama gara-gara butiran-butiran jagung yang disia-siakan.
“Ayo, Uti, ini dicicipi popcornnya,” kata cucunya sambil tangannya menarik-narik tangan utinya.
“Ya, Uti ikut makan.” Tangan Uti Sulastri mengusap kepala cucunya yang menikmati popcorn yang masih hangat itu. Dia merasa lega cucunya tidak melihat butiran airmata yang tidak kuasa dibendungnya.
*****