Click here for:

Suatu Subuh di Cihanjuang

Candra Padmasvasti was born in Bandung, October 11, 1974. She was raised in a family that values education and literature. Reading and keeping a diary have been her passions since childhood. As a consultant in children’s and women’s rights for national and international institutions, Candra often writes activity reports, training materials, and policy drafts.

The Sacred Waterfall is her first short story. Writing this story has underscored her belief that writing demands the courage to dream and an honesty to oneself.

Candra can be reached at c.padmasvasti@gmail.com.

 

 

Suatu Subuh di Cihanjuang

 

Alunan karinding, alat musik dari bilah bambu khas Jawa Barat, mengeluarkan nada tinggi melengking, berpadu dengan embusan angin malam yang dingin. Karinding selalu dimainkan di acara adat. Suara mendengung hasil perpaduan sentilan jari dan tiupan udara dari mulut si pemain, membuat suasana di pertemuan adat terasa mendebarkan.

Setelah acara selesai. Panitren, sang penjaga adat, berlari dari Bale Saresehan menghampiri jendela dapur Uwa Enok yang masih terbuka. “Sudah diputuskan! Citrik akan dinikahkan dengan Kang Dayat!” ujarnya di antara tarikan napas dan langkah kakinya yang bergegas menjauh. 

Uwa Enok yang sedang duduk di atas dipan di dekat jendela dapurnya langsung menutup wajah dengan kedua telapak tangannya. Wanita tua itu menangis, berusaha mencerna berita yang disampaikan oleh panitren.

Citrik yang sedang duduk menghangatkan tubuhnya di depan hawu, tungku kayu bakar, seketika merasa mual. Pepes jamur, lauk makan malam tadi, terasa mengimpit kerongkongannya. Gadis remaja tigabelas tahun itu menggelugut membayangkan Mang Dayat, lelaki paruh baya yang biasa dia panggil paman, akan menjadi suaminya.

Pernikahan Mang Dayat dengan Bi Nenden memang belum dikaruniai keturunan. Perilaku mereka sangat berlawanan, Mang Dayat suka berbicara, sedangkan Bi Nenden sangat pendiam. Perempuan di kampung kerap menggunjingkan kelakuan Mang Dayat, yang sering punya hubungan khusus dengan perempuan dari luar Cihanjuang. Sebagian dari mereka menuduh Bi Nenden yang tidak dapat memberikan anak, sebagai alasannya.

Mengapa harus aku yang memberinya anak? Citrik merasa jijik. Tangannya menarik tepian kain sarung dari sisi kedua lengannya, membungkus tubuh mungilnya, dan membenamkan kepalanya.

Citrik teringat kejadian beberapa hari lalu. Kala itu dia dan Uwa Enok sedang berjalan sepulang dari sungai.

Tiba-tiba dari barisan pohon, Mang Dayat muncul menghadang mereka. “Aduh wanginya,” goda Mang Dayat sambil mendekatkan kepalanya ke arah tubuh Citrik.

Citrik langsung menjerit dan berlindung di belakang badan Uwa Enok. Gelung Citrik terlepas, rambutnya yang hitam jatuh tergerai melewati pundaknya yang basah. Tubuh gadis itu hanya dibalut kain sarung, selepas mandi di sungai.

Citrik merinding karena masih bisa merasakan napas Mang Dayat di lengannya.

“Mau apa kamu, Dayat?” Uwa Enok membentak.

“Mau menikah dengan ponakanmu,” ujar Mang Dayat tergelak. Bau minyak rambut Mang Dayat tercium begitu kuat, mengalahkan wangi sabun mandi dari tubuh Citrik dan Uwa Enok. Mang Dayat mengusap kumisnya sambil menatap Citrik. Mata lelaki tua itu bergerak menyapu wajah pucat Citrik. Pandangannya menjelajahi leher yang jenjang lalu turun ke pundak nan putih. Bola matanya kian membesar saat tilikannya tiba pada pinggul sintal Citrik yang terbalut kain sarung basah.

“Jangan kurang ajar!”  Uwa Enok berteriak marah.

“Aku akan buatkan rumah terbagus di Cihanjuang untukmu, Citrik,” ucap Mang Dayat merayu Citrik tanpa menghiraukan hardikan Uwa Enok. “Kamu bisa dapat semua yang kau mau dengan uang hasil usaha ternakku.” 

Citrik masih tidak menjawab, kedua tangannya terus memeluk keranjang berisi baju yang baru dicuci sebagai tumpuan tubuhnya yang gemetar.

“Anak ini sudah mendapat rumah dari ku.” Uwa Enok berucap sambil mengangkat dagu, matanya menatap tajam lelaki yang ada di depannya. Lalu bibirnya mengatup, tarikan napasnya yang pendek diembuskan lewat kedua lubang hidungnya. 

“Rumah usang bekas perawan tua tidak pantas untuk gadis cantik seperti Citrik,” ejek Mang Dayat diikuti suara tertawanya yang menjengkelkan.

Wajah Uwa Enok memerah. Tangannya mengepal menahan amarah. “Awas! Aku laporkan kepada sesepuh adat!” Uwa Enok berteriak lantang.

Mang Dayat justru tertawa liar. “Dengan kepandaian ilmu sirep akan aku tembus mimpi sesepuh adat. Dia akan menuruti semua kemauanku.”

Uwa Enok tersentak. Dia diam kehabisan kata-kata.

Melihat perubahan sikap Uwa Enok, Mang Dayat kembali tertawa keras. Kedua tangannya bertengger di pinggang, menampakkan perutnya yang montok berguncang. “Aku berkuasa di Cihanjuang! Perempuan tua macam kamu tidak ada artinya bagiku.” Mang Dayat menunjukkan jari telunjuknya ke arah Citrik. “Dia milik aku!”

Citrik merasa dirinya diperlakukan layaknya barang untuk dimiliki. Tenggorokannya tercekat menahan tangis.

Uwa Enok masih diam mematung.

Mang Dayat berlalu menjauh.

Uwa Enok berbalik badan dan memeluk Citrik.

Keduanya bertangisan di sisi jalan setapak. Sesaat mereka merasa agak tenang, Uwa Enok mengajak Citrik pulang ke rumah.

“Ayo pulang malu jika ada yang melihat kita sedang bertangisan,” Uwa Enok mengusap air mata Citrik, “Kita pasti akan dapat jalan keluarnya.”

Kalimat terakhir Uwa Enok membuat hati Citrik tenang. Dua perempuan itu pun berjalan menuju ke rumah.

***

Keesokan harinya, pendar matahari lamat-lamat menerobos celah dinding dapur yang terbuat dari bambu. Citrik masih masygul menerima keputusan adat. Hanya dengan memasak pikirannya dapat teralihkan. Wangi dapur ini yang berlantai tanah dengan empat batang kayu pohon hanjuang di setiap sudutnya, seakan menjadi rahim ibu yang memberinya rasa tenteram. Uwa Enok pernah bertutur tentang pohon hanjuang. Batangnya terkenal kuat menopang bangunan. Daunnya berwarna merah dan hijau, melambangkan keseimbangan antara manusia dan alam. Menurutnya, pohon hanjuang adalah lambang perempuan Cihanjuang, yang kuat dan mampu menjaga keseimbangan keluarga. Singgasana perempuan Cihanjuang adalah dapur, tempat dia bertahta, mengolah apa yang diberikan alam menjadi makanan untuk keluarganya. “Kelak dapur dan seluruh isinya ini akan menjadi milikmu, Citrik,” Uwa Enok berkaul.

Tangan Citrik menggeser selot kayu, membuka jendela. Angin pagi yang dingin membuat pipinya yang putih bersemu merah. Kedua matanya menatap langit sejenak. Alis mata yang tebal dan bulu mata yang lentik, membuat Citrik terlihat cantik alami.

Dia teringat saat datang bersama Bapak dari Bandung ke Cihanjuang di bulan Agustus 1949. Cihanjuang, desa kecil di pegunungan Sukabumi adalah tanah kelahiran Bapak dimana Uwa Enok, kakak perempuan satu-satunya, menetap. Bapak menangis di pangkuan Uwa Enok, sambil menceritakan perihal rumah yang dibakar dan Ibu yang dibunuh gerombolan Tentara Islam Indonesia.

Saat itu, usia Citrik masih lima tahun. Kejadiannya terjadi begitu cepat. Malam itu dia terbangun sudah berada di gendongan Bapak. Pandangannya kabur tertutup asap, napasnya sesak oleh udara yang terasa panas sampai ke dada. Bapak berusaha keluar dari rumah, berlomba dengan jilatan api yang berasal dari rumah-rumah lainnya. Orang-orang berlarian, suara jeritan dan tangisan terdengar dimana-mana. Bapak dan Citrik menanti Ibu keluar dari rumah untuk mengajaknya berlari menjauhi kampung. Namun sayang, Ibu tidak pernah keluar dari rumah.

Bapak sering bercerita tentang dendamnya pada gerombolan yang membuat Ibu mati. “Kartosoewirjo, pemimpin gerombolan itu tidak puas dengan kemerdekaan Indonesia yang masih dibayang-bayangi Belanda,” kata Bapak berapi-api, “Dia memaksa Jawa Barat menjadi Negara Islam Indonesia.”

Menurut Bapak, gerombolan itu bergerilya di hutan-hutan untuk mempertahankan diri dari kejaran TNI-AD. Mereka membutuhkan persediaan makanan yang banyak. Biasanya, saat tentara Indonesia tahu bahwa gerombolan akan mendatangi kampung untuk mencari bahan makanan, mereka akan meminta warga kampung mengungsi. Gerombolan itu mengharuskan setiap rumah menyediakan beras atau bahan makanan di teras rumah. Jika tidak disediakan maka mereka akan merusak atau membakar rumah tersebut.

“Malam itu gerombolan Tentara Islam Indonesia di Tasikmalaya menyerang markas TNI-AD disana sehingga TNI-AD di wilayah Kabupaten Bandung harus berpindah tugas ke sana. Tidak ada yang tahu bahwa gerombolan itu akan datang ke kampung kita,” ujar Bapak pilu.

Sejak itu, setelah sekian tahun tinggal di Kabupaten Bandung bersama Ibu dan Citrik, Bapak kembali tinggal di Cihanjuang, kampung kelahirannya. Hari-hari Bapak hanya diisi dengan meratapi kematian Ibu. Sampai akhirnya Bapak mulai sering berbicara sendiri dan julukan orang gila melekat pada dirinya.

Tak sampai dua tahun sejak Citrik tinggal di Cihanjuang, pada suatu subuh Uwa Enok menemukan tubuh Bapak sudah kaku. Ajal menjemput Bapak di kala tidur. Kedukaan yang menimpa Citrik, membuatnya tumbuh menjadi gadis pendiam, yang jarang bergaul dengan anak-anak sebayanya.

***

Jemari Citrik yang lentik mengambil tiga batang kayu bakar, memasukkan satu per satu ke lubang hawu. Citrik menempelkan bibirnya yang tipis pada sepotong bambu pendek lalu meniupkan udara ke arah bara sampai menjadi api. Tiba-tiba dia tersadar belum melihat Uwa Enok sejak fajar.

Walaupun Uwa Enok terkenal jarang berbicara, Citrik selalu merasa lebih tenang jika berada di dekatnya. Uwa Enok adalah pengganti orang tuanya.

Citrik mengangkat langseng, alat untuk memasak air dan mengukus makanan, dan meletakkannya di atas hawu.  Langseng tembaga berwarna kuning keemasan itu terlihat seperti topi pesulap terbalik. Citrik berpendapat memasak itu memang mirip melakukan pertunjukan sulap.

Uwa Enok lah yang memperkenalkannya pada serunya memasak. Semua orang di Cihanjuang mengakui kepiawaian Uwa Enok memasak, karena masakannya selalu mendapat pujian dari sesepuh adat. Kata Uwa Enok, kemampuan memasak penting bagi perempuan Cihanjuang, tidak saja karena nikmatnya masakan akan membuat keluarga bahagia, tapi juga sebagai bentuk syukur atas apa yang kita dapatkan dari alam.

Saat masih tinggal bersama orangtuanya, Citrik membayangkan dia akan bersekolah seperti anak-anak lain. Namun bayangan itu pupus, karena di Cihanjuang belum ada sekolah. Anak-anak di Cihanjuang belajar dari alam.  Mereka belajar makna kesabaran dan keuletan melalui bertani.

“Alam adalah guru terbaik bagi manusia,” demikian wejangan Uwa Enok saat mengajarkan tentang ngahuma, menanam padi di ladang dengan cara tumpang sari. Padi ditanam bersama tanaman jagung dan pisang yang sudah ditanam terlebih dulu, sehingga tanah menjadi subur dan panen melimpah. Adat ngahuma ini adalah aturan yang tidak boleh dilanggar, supaya manusia tidak lupa dari mana dia berasal dan menghormati alam yang telah memberinya kehidupan.

Suara ketukan keras diikuti bunyi pintu dapur yang didorong kasar menyadarkan Citrik dari lamunannya. Dia membalikkan badan.

Terlihat Bi Nenden berjalan cepat menghampirinya. Istri dari Mang Dayat itu terlihat marah, tidak seperti biasanya. “Kamu pikir bisa memiliki suamiku karena kamu lebih muda?” Bi Nenden berteriak.

Citrik kaget merengket ketakutan.

“Perempuan tidak tahu malu!” Tangan Bi Nenden mendorong lengan Citrik dengan keras.

“Nenden!” Sebuah suara keras terdengar dari arah luar. Uwa Enok berjalan mendekat.

Saur kudu dibubut!” Uwa Enok mengingatkan falsafah adat untuk berbicara dengan hati-hati. “Ini rumahku. Kamu harus menghormatinya!” Uwa Enok berdiri di depan Citrik dengan sikap melindungi. Bibirnya bergerak merapalkan sesuatu. Tiba-tiba udara dapur terasa lembab. “Aku pun tak sudi Citrik menjadi istri kedua suamimu,” kata Uwa Enok tegas.

Semburat marah di mata Bi Nenden perlahan berubah menjadi tatapan kosong dan dia pun menangis tersedu-sedu. “Hampura, mohon maaf, Bi Nenden merajuk sambil berjongkok. “Kamu tahu bagaimana aku sudah lelah menghadapi suamiku yang buta oleh nafsu.”

“Dari mana suamimu belajar ilmu sirep?” Uwa Enok bertanya dengan nada memaksa. Pandangannya menyelidik menatap mata Bi Nenden yang langsung terlihat gugup.

“Dia belajar kepada seseorang dari selatan Pulau Jawa.” Bi Nenden menjawab lemah. “Ilmu itu menghancurkan suamiku.” Bi Nenden terisak.

Uwa Enok mengambil gelas dari rak bambu, mengisinya dengan air dari kendi, lalu meniup gelas itu sebelum disodorkan kepada Bi Nenden yang langsung meminumnya habis.

Uwa Enok berjongkok sejajar dengan Bi Nenden dan berbisik dengan suara lirih, “Mari kita ke mata air untuk minta petunjuk dari Nyi Mas Hanjuang.” Mata air Nyi Mas Hanjuang adalah tempat sakral yang berada di balik bukit. Uwa Enok sering berdoa di sana.

Kedua perempuan itu perlahan bangun dari jongkok. Uwa Enok menatap mata Bi Nenden lalu mengangguk dan menggerakkan kepalanya ke samping sebagai ajakan untuk berangkat. Mereka berjalan keluar dari dapur.

Jantung Citrik berdegup kencang saat dia memandang punggung kedua perempuan yang terlihat menjauh itu.

***

Hari sudah gelap, tapi Uwa Enok tak kunjung pulang sejak berangkat ke mata air Nyi Mas Hanjuang bersama Bi Nenden. Walaupun Citrik tahu Uwa Enok sudah biasa pergi ke mata air, hati Citrik tetap khawatir. Apakah Uwa Enok sudah makan? tanyanya dalam hati. Dia memandang lauk ulukutek leunca yang dimasaknya tadi pagi masakan kesukaan Uwa Enok yang terbuat dari oncom, campuran peragian tempe dengan leunca, jenis sayuran lalapan yang banyak tumbuh di daerah Jawa Barat. Citrik menunggu Uwa Enok sambil bergolek di pembaringan. Tidak berkuasa untuk tetap terjaga, akhirnya gadis itu pun terlelap.

***

Di tengah malam Citrik masih terlelap di pembaringan. Sinar lampu cempor membuat bayangan lekuk pinggulnya tampak di dinding. Suara tokek yang keras membuat Citrik terjaga dari tidurnya. Gadis itu mencari tubuh Uwa Enok di sebelahnya, tetapi hanya ada dirinya di pembaringan. Uwa Enok kenapa masih belum kunjung datang?  Citrik mengkhawatirkan Uwa Enok yang harus berjalan jauh ke mata air Nyi Mas Hanjuang.

Citrik teringat saat pertama kali berdoa di mata air Nyi Mas Hanjuang tahun lalu. Saat itu Citrik baru saja selesai mendapat haid yang pertama, dan Uwa Enok mengutarakan padanya bahwa sudah waktunya Citrik belajar doa khusus karena sudah menjadi perempuan dewasa. Perjalanan ke mata air Nyi Mas Hanjuang harus melewati hutan larangan. Hutan yang membentang di punggung bukit ini adalah wilayah sakral yang dilindungi oleh adat. Peraturan adat melarang wilayah hutan larangan digunakan untuk bercocok tanam, apalagi memotong pohonnya tanpa ijin dari sesepuh adat. “Tidak boleh pakai alas kaki dan tidak boleh bicara sepatah kata pun.” Uwa Enok menjelaskan adab sebelum melewati hutan larangan.

Malam itu, suara jangkrik yang riuh berirama menemani perjalanan dua orang perempuan, melalui hutan larangan.  Citrik berjalan di belakang Uwa Enok yang memegang obor. Citrik teringat rasa dingin di telapak kakinya saat menapaki tanah yang lembab. Baju hangat dan kain kebaya tebal tidak mampu menahan angin gunung yang menusuk sampai tulang. Saat itu, sebenarnya dia sudah lelah dan kedinginan, tapi mengadu pada Uwa Enok hanya akan membuat perempuan tua itu gusar. Citrik sudah hapal tabiat Uwa Enok. Jika keinginannya tidak terpenuhi pasti akan marah, berbeda dengan sifat dirinya yang selalu mengalah.

Air terjun Nyi Mas Hanjuang adalah sebuah bengkahan kecil di antara tebing. Mereka tiba di sana hampir tengah malam. Cahaya obor menunjukkan bebatuan besar di sekitarnya. Citrik mendengar suara air yang keras, menunjukkan air terjun ini deras dan letaknya cukup tinggi.

Uwa Enok menjura dan duduk di atas batu, diikuti oleh Citrik.

Tetap tanpa suara, Citrik langsung mengambil sesajen dari kain gendongan. Baskom berukuran kecil berisi satu ekor ayam panggang, sebuah kelapa muda dan bunga kenanga segenggam tertata rapi di atas batu.

Uwa Enok membakar dupa. Lalu kedua perempuan itu duduk bersila, mulai berdoa. Hanya terdengar derasnya suara air terjun, Citrik semakin tenggelam dalam semedinya. Wajah dan tubuhnya basah terkena cipratan air yang memandikannya. Rasa dingin di tubuhnya berangsur-angsur menjadi biasa. Wangi dupa memenuhi relung hidung dan mengantarkan pikiran Citrik melayang, mengapung, membubung bersama mantra yang mengalir dari bibirnya.

“Aku terima yang kau berikan” sebuah suara wanita yang lembut tiba-tiba terdengar di antara rapalan mantra. Nadanya jelas dan terdengar bersahaja. Suara itu bukan masuk ke telinga Citrik, lebih tepat terdengar di dalam kepalanya.

“Saya sudah melengkapi seluruh syarat yang Nyi Mas minta,” suara Uwa Enok, masih terdengar di dalam kepala Citrik.

“Ada di tanganmu,” suara lembut itu terdengar lagi.

Uwa Enok mengatupkan kedua telapak tangannya di atas kepala untuk beberapa saat, lalu menariknya ke pangkuan dengan gerakan cepat. Sesaat dibukanya kedua telapak tangan, terlihat besi tipis dan kecil berwarna emas kehitaman sepanjang telapak tangan. Uwa Enok kembali menjura dan mengucapkan rasa terima kasih.

“Keris ini adalah titipan yang harus kau jaga” suara lembut itu kembali terdengar, “Gunakanlah untuk menjaga keselarasan antara manusia dan alam.”

Uwa Enok kembali mengucapkan terima kasih lalu menyentuh lengan Citrik mengajak pamit pulang. Mereka berjalan menjauh dari mata air. Perjalanan pulang tidak seberat saat berangkat, terasa lebih cepat berlalu. Mereka tiba di kampung saat subuh mulai menyentuh punggung Gunung Cimentang.

Citrik melamun sambil rebahan di pembaringan. Lamunannya mengantarkan kantuknya kembali menyerang. Gadis itu pun kembali tertidur pulas.

***

Kabut subuh masih menyelimuti kampung Cihanjuang, ketika Uwa Enok membuka pintu dapur. Perempuan tua itu masuk dengan gerakan perlahan. Buliran keringat terlihat di dahinya, dia nampak kelelahan namun bibirnya tersenyum saat memandang Citrik yang terlelap di atas dipan bambu. Uwa Enok menarik selimut yang tergulung di kaki Citrik, dan menyelimuti tubuh gadis itu. Diusapnya kepala Citrik perlahan, sebelum merebahkan dirinya untuk beristirahat.

***

Saat malam Jumat Kliwon, malam Jumat yang dikenal keramat oleh penghuni Dessa Cihanjuang, Citrik menyiapkan sesajen di dapur seperti biasanya. Empat butir telur rebus, segelas kopi pahit, lima kuncup bunga mawar, segenggam bunga kenanga, satu butir kelapa hijau, dan satu sisir pisang mas. Sesajen disimpan di pojok ruangan bersisian dengan hawu. Uwa Enok yang mulai membakar dupa, merogoh isi kutang dan mengambil kain putih yang membungkus Keris Nyi Mas Hanjuang. Perlahan Uwa Enok menempatkan keris itu di antara sesajen setelah melepaskan kain pembungkusnya.  

Harum dupa mengisi dapur sampai ke langit-langit. Asap dupa dan hawu bersatu. Citrik duduk bersila di sebelah Uwa Enok. Keduanya menjura ke arah sesajen lalu menempatkan kedua telapak tangan di atas tungkai.

Uwa Enok mulai membaca mantra dengan suara lirih.

Hanjuang beureum hejo.  Hanjuang berwarna merah hijau.

Hanjuang nu ngaleupaskeun. Membebaskan simpul yang tercengkeram. 

Ti kiwa tengen luhung mancur. Hanjuang pembawa ilmu. 

Poek mongkleng sateuacan isuk. Di gelap gulita sebelum pagi.

Mantranya berbeda dari yang biasa kita baca setiap malam Jumat ya, Uwa?” tanya Citrik

“Perintah Nyi Mas Hanjuang.” Uwa Enok menjawab tanpa memandang wajah Citrik.

Melihat bahasa tubuh Uwa Enok, Citrik enggan bertanya lebih lanjut. Dia pun memejamkan mata dan mulai mengikuti rapalan mantra Uwa Enok. Beberapa saat kemudian, udara di dapur terasa lebih panas. Citrik melayang, mengapung, membubung bersama mantra yang mengalir dari bibirnya. Malam semakin tua, kabut dingin menyelimuti Cihanjuang, dan wangi kenanga ajek di dapur sepanjang malam.

***

Matahari dari balik Gunung Cimentang mulai beranjak naik. Citrik terlihat cantik menggunakan kebaya putih dan sarung berwarna hijau. Dia menunggu Uwa Enok menyiapkan dirinya untuk hadir di acara adat.

Tirai kamar tersibak dan Uwa Enok melangkah keluar. Wangi kenanga kembali menelusup ceruk hidung. Dia mengenakan kebaya putih yang biasanya, tetapi dia terlihat berbeda. Uwa Enok terlihat sangat anggun. Rambutnya disanggul cepol ke atas. Walaupun kulitnya telah keriput, tetapi terlihat bersinar. Uwa Enok tersenyum dan mengajak Citrik mengikutinya.

Citrik berjalan di belakang Uwa Enok, sesekali mencoba bersisian agar dapat mengintip wajah Uwa Enok. Citrik memeluk baskom berisi kue apem di dadanya, risau terjatuh.

Di Bale Saresehan sudah banyak warga yang datang untuk berdoa. Semua mata memandang Uwa Enok yang melangkah masuk. Dagunya terangkat, cepolnya yang tinggi membuat tulang pipinya menonjol.

Di ujung ruangan, terlihat kain batik dengan corak daun berwarna hijau dan merah, menutupi tubuh manusia beralaskan tikar pandan. Tadi pagi, panitren memukul kentongan dan mengabarkan kematian Mang Dayat kepada warga. Mang Dayat ditemukan meninggal saat tidur. Tubuhnya sudah kaku kala subuh menyentuh bumi.

Bi Nenden terlihat duduk menunduk di dekat jenazah.

Citrik menempatkan baskom yang dia pegang bersama kumpulan sesajen di dekat jenazah, lalu duduk di sebelah Uwa Enok. Wangi pandan di sekitar jenazah terpintal bersama harum kenanga dari tubuh Uwa Enok. Nada karinding melambat. Sebentar lagi acara doa kematian akan dimulai. Citrik melirik ke arah Uwa Enok.

Mata Uwa Enok memandang ke arah Bi Nenden.

Perlahan kepala Bi Nenden terangkat dan keduanya saling menatap.

Uwa Enok pun mengangguk lamban.

Sekelebat, Citrik melihat ada segaris senyum tipis di wajah kedua perempuan itu. Citrik tertegun. Daun-daun pohon hanjuang di sekitar Bale Saresehan berlenggok tertiup angin. Kematian selalu mengundang pilu, tapi kali ini tidak.

 

*****

 

Choose Site Version
English   Indonesian