Click here for:

Mata Yang Indah

Budi Darma is an Indonesian novelist, essayist, and short-story writer. He is often cited as an absurdist writer. His novel Olenka (Balai Pustaka, 1980) won the 1980 Jakarta Art Council Prize. Other novels are Rafilus (Balai Pustaka, 1988) and Ny. Talis: Kisah mengenai Madras (PT Gramedia Pustaka Utama, 1996). Harmonium (Pustaka Pelajar, 1995) is his book of literary criticism. “Mata yang Indah (Beautiful Eyes)” was included in his short story collection, Kritikus Adinan (Bentang Budaya, 2002). Currently, Budi Darma is a professor of English literature at the Surabaya National University in Indonesia.

“Mata yang Indah (Beautiful Eyes)” first appeared in the short story collection, Kritikus Adinan (Bentang Budaya, 2002), copyright © 2002 by Budi Darma. Published with permission of the author. Translation copyright © 2013 by Nurul Hanafi, edited by Sal Glynn.

***

 

Mata Yang Indah

Beberapa saat sebelum meninggal, Ibu mengelus-elus kepala saya, kemudian berkata: “Haruman, lihatlah mata saya baik-baik.” Tampak ada nyala lembut dalam mata Ibu, nyala lilin yang hampir padam. Lilin sudah hampir habis, demikian pula sumbunya. Namun tampak, nyala lilin itu tenang, tidak sama dengan nyala lilin yang berjuang untuk tetap hidup pada saat berhadapan dengan angin yang akan membunuhnya.

Saya tahu Ibu akan meninggal, meninggal dengan benar-benar pasrah.

Dengan mendadak ada bau, entah datang dari mana, amat lembut, namun amat segar. Saya diam, namun saya ingat cerita Ibu ketika saya masih kecil dahulu, “Haruman, pada saat saya akan meninggal kelak, akan ada bau dari sorga dikirim ke dunia.”

“Siapa yang mengirim?” tanya saya, dulu, ketika saya masih kecil.

“Malaikat. Ketahuilah, Haruman, ada masa awal dan ada masa akhir, demikian juga kehidupan manusia. Menjelang saat kehidupan seseorang berakhir, pasti ada malaikat melayang-layang tidak jauh dari dia yang akan meninggal. Kadang-kadang malaikat tidak membawa apa-apa, kadang-kadang membawa petaka, kadang-kadang pula membawa bunyi-bunyian atau bau yang tidak pernah terbayangkan oleh manusia sebelumnya. Lakukanlah tindakan-tindakan mulia dengan hati yang bersih dalam kehidupanmu, Haruman, agar kelak, sebelum kamu meninggal, malaikat akan membawakan kamu pertanda-pertanda yang agung.”

Entah mengapa, begitu Ibu selesai berkata mengenai malaikat yang pada suatu saat akan datang, saya lupa kata-kata Ibu. Saya hanya ingat, Ibu selalu berbuat baik kepada siapa pun, dan sering sekali ibu saya memberi nasihat kepada saya untuk meniru perbuatan-perbuatannya. Sebagai anak yang baik, saya selalu menurut.

Pada suatu hari, entah umur berapa saya pada waktu itu, Ibu menyuruh saya untuk pergi, entah ke mana. “Lupakanlah saya, Haruman, namun jangan lupa nasihat-nasihat saya. Pergilah ke tempat-tempat jauh untuk mencari pengalaman. Pada saatnya nanti, kamu pasti akan merasa, bahwa waktumu untuk kembali kepada saya telah tiba.”

Demikianlah, sejak saat itu saya mengembara. Selama mengembara saya pernah menjadi pengayuh perahu tambang, penebang pohon di hutan-hutan lebat, tukang memasang atap rumbia, dan entah apa lagi. Nasihat Ibu untuk selalu bertindak baik dengan hati bersih selalu saya turuti. Tapi entah mengapa, saya merasa bahwa saya selalu dicurigai oleh siapa pun yang bertemu dengan saya. Begitu melihat mata saya, siapa pun, pasti membersitkan sikap curiga.

Kecurigaan apa yang mereka pendam, saya tidak tahu. Apakah mereka mencurigai saya sebagai pencuri, pembunuh, penipu, atau apa pun, saya tidak pernah tahu. Karena itu, saya selalu merasa bersalah, atau, mungkin lebih dari sekadar bersalah. Saya merasa saya berdosa, kendati saya yakin saya tidak pernah melakukan tindakan laknat sama-sekali. Berpikir buruk pun, kepada siapa pun dan kepada apa pun, saya tidak pernah.

Mungkin karena saya merasa selalu dicurigai, dan karena itu saya selalu merasa bersalah dan berdosa, saya selalu berpindah-pindah tempat. Tidak pernah saya tinggal di suatu tempat lebih dari tiga hari. Memang, tidak ada satu orang pun yang pernah mengusir saya, namun saya sendiri merasa bahwa saya akan menjadi beban bagi mereka.

Pada suatu hari, ketika saya sedang berjalan dari satu desa ke desa lain, seekor burung besar, tanpa saya ketahui dari mana asalnya, dengan sangat mendadak menukik ke arah saya, lalu berusaha dengan amat susah-payah untuk menyerang mata saya. Entah mengapa, tepat pada saat cakar burung akan menghunjam ke mata saya, saya berhasil menutup wajah erat-erat dengan tangan. Dengan sangat cepat burung itu kembali ke udara, lalu dengan sangat mendadak berusaha menyerang lagi.

Demikianlah, bertubi-tubi burung itu menyerang saya, dan bertubi-tubi pula saya menutup wajah saya dengan tangan. Akhirnya, burung itu hanya sanggup melukai tangan saya, tanpa sanggup mencongkel mata saya.

Untuk menahan rasa sakit, saya terguling-guling di atas tanah dan mengerang-erang dahsyat, entah berapa lama. Namun, sampai berhari-hari, darah masih terus merembes keluar dari luka tangan saya, dan rasa sakit masih benar-benar menyiksa.

Sesuai dengan pesan Ibu, selama mengembara memang saya sudah berhasil melupakan Ibu. Selama mengembara itu saya tidak pernah berpikir, bahwa seharusnya saya mempunyai ibu, ayah, saudara, dan kerabat lain. Saya benar-benar merasa sebatang kara, tanpa pernah menyadari perasaan saya sendiri bahwa saya adalah sebatang kara.

Entah mengapa, pada saat saya hampir selesai berguling-guling di atas tanah untuk menahan rasa sakit, sekonyong-konyong saya teringat cerita Ibu, dahulu, ketika saya masih kecil.

“Haruman,” demikianlah kata Ibu dahulu, ketika saya masih kecil. “Orang-orang suci pernah berkata, sebagaimana yang sering saya katakan dahulu, bahwa para pengembara besar ditakdirkan untuk tinggal di suatu tempat tidak lebih dari tiga hari. Kalau tidak, akan timbul kekacauan. Ingat-ingatlah kembali kisah para pengembara besar, sebagaimana yang sudah sering saya ceritakan.”

Entah mengapa, begitu saya selesai teringat kata-kata Ibu mengenai para pengembara besar, dengan sangat mendadak saya lupa Ibu, demikian pula semua tindakan dan kata-kata Ibu. Hanya memang, kadang-kadang, saya merasa mendapat peringatan, entah dari siapa, untuk tidak tinggal bersama orang lain lebih dari tiga hari. Dan, memang, saya tidak pernah mempunyai keinginan sedikit pun untuk mengganggu dan membebani orang lain.

Demikianlah, setelah saya kena serang burung besar itu, saya cacat. Tangan saya masih tetap dapat saya pergunakan untuk bekerja, namun lambat dan cepat capai. Seluruh tubuh saya juga menjadi tidak beres.

Kadang-kadang tubuh saya mendadak panas, seolah darah saya mendidih. Beberapa kali pula dengan mendadak saya kehilangan keseimbangan. Kalau keseimbangan kacau, saya terpaksa berjalan terhuyung, kemudian terjatuh, dan kemudian berguling-guling menahan rasa sakit.

Namun, saya harus terus bekerja. Saya tidak mau mengganggu dan membebani orang lain. Dan saya menolak untuk menjadi pengemis.

Setelah sekian kali pernah menjadi pendayung perahu tambang di berbagai desa, akhirnya saya kembali lagi menjadi pendayung perahu tambang di sebuah desa sepi dan terpencil. Mengapa saya menjadi pendayung perahu tambang lagi, tidak lain karena pada suatu hari, ketika saya sedang tertidur di bawah sebuah pohon rindang, dengan sangat mendadak tubuh saya tertumbuk dengan tidak sengaja oleh seorang laki-laki. Begitu keras dia menumbuk saya, sampai-sampai dia terpaksa terguling.

Saya benar-benar terperanjat ketika saya menyadari, bahwa laki-laki yang tidak sengaja menumbuk tubuh saya ini memiliki mata yang luar biasa indah, dan luar biasa cemerlang. Namun terasa benar, bahwa mata yang luar biasa indah itu sebetulnya mengandung penyakit.

“Apakah kamu seorang laki-laki muda?” tanya dia.

“Ya,” kata saya.

Saya sadar bahwa dia memandang saya dengan tajam, namun saya juga sadar bahwa sebetulnya dia tidak melihat saya.

“Maaf, sudah bertahun-tahun saya mengalami rabun mata. Makin hari, makin rabun mata saya. Padahal, di desa ini hanya sayalah yang mau menjadi pendayung perahu tambang. Kebetulan pula, saya tidak mempunyai kemampuan untuk bekerja apa pun selain mendayung perahu tambang saya. Penumpang perahu tambang memang sangat jarang, namun tidak berarti bahwa saya dan perahu saya tidak pernah diperlukan.”

Pemilik perahu tambang itu bernama Gues. Potongan tubuhnya rasa-rasanya mirip potongan tubuh saya, begitu juga cara dia berjalan. Segera setelah dia membawa saya ke perahu tambangnya, dia menghilang entah kemana. Mula-mula saya tidak tahu bagaimana dia bisa berjalan dan mengayuh perahunya, sebab, saya benar-benar yakin, bahwa sebetulnya matanya sudah benar-benar buta.

Sampai hampir menjelang malam, tidak ada satu penumpang pun memerlukan perahu tambang. Saya gelisah, karena sampai hampir menjelang malam itu pula, tidak nampak tanda-tanda bahwa pemilik perahu tambang itu akan datang. Maka, setelah mengikat perahu tambang erat-erat, saya berjalan ke arah pohon rindang, dan tertidur lagi di tempat tubuh saya tertumbuk Gues tadi.

Entah berapa lama saya tertidur, saya tidak tahu. Seandainya tidak ada tangan halus mengusap-usap kepala saya, pasti saya akan tertidur terus sampai lama. Tangan halus siapa? Saya tidak tahu, namun saya yakin, pasti tangan halus perempuan. Malam sudah benar-benar gelap, dan saya tidak bisa melihat.

Dengan sangat mendadak, mulut saya terkunci oleh sepasang bibir yang memagut-magut bibir saya. Saya mendengar nafas mendesah-desah ganas. Di antara pagutan-pagutan bibir, kadang-kadang saya mendengar suara lembut, namun dengan nada marah: “Gues, mengapa kamu tidak pernah memperlakukan saya sebagai istri kamu? Berilah saya keturunan. Kalau kamu mati, siapa yang akan menemani saya?”

Sebelum saya kena perkosa istri Gues, saya sempat membebaskan diri. Istri Gues berusaha menangkap saya, namun saya tidak pernah tertangkap. Saya sempat mendengar lolong-lolong pilu dia: “Gues! Gues! Bukankah saya istrimu?”

Pada saat dia melolong-lolong sambil berusaha mengejar saya, saya bisa menarik kesimpulan mengapa Gues bisa berjalan dan mengayuh perahunya. Nampaknya, karena kebiasaannya yang sudah amat lama, dia hapal semua jalan yang harus dilaluinya. Dia menumbuk tubuh saya, karena, agaknya, selama ini tidak pernah ada penghalang apa pun di bawah pohon rindang itu.

Tampaknya, setelah menyadari bahwa saya lari ke arah yang tidak biasa ditempuh Gues, dia sadar bahwa saya bukan Gues. Maka melolong-lolonglah dia, memohon ampun kepada Seru Sekalian Alam. Dia merasa benar-benar menyesal, karena telah berusaha melumat-lumat tubuh laki-laki yang ternyata bukan suaminya.

Mendengar lolong-lolong penyesalan, saya berhenti sekejap. Rasa berdosa menyergap seluruh jiwa dan raga saya. Kendati saya tidak pernah berusaha memperkosa siapa pun, saya merasa telah menodai istri orang lain. Hati saya benar-benar luka. Sambil menangis, saya berlari menjauhi desa.

Luka hati saya tidak pernah sembuh. Kehidupan saya bagaikan kehidupan dalam neraka, neraka tempat saya tinggal selama-lamanya. Dosa saya, rasanya, tidak akan pernah terhapus.

Demikianlah, saya terus mengembara, tanpa ingat dan tanpa keinginan untuk mengingat berapa lama saya sudah mengembara. Dan demikianlah, pada suatu hari, dengan sangat mendadak saya teringat Ibu. Maka berjalanlah saya pulang, melalui jalan-jalan yang sudah begitu lama saya tinggalkan.

Ketika saya tiba kembali di desa Ibu, saya melihat pemandangan yang benar-benar mengerikan. Debu beterbangan, rumah tinggal sedikit karena rumah-rumah lain sudah roboh, tanah retak-retak kekeringan, pohon-pohon mati, dan tidak ada satu hewan pun yang nampak. Sungai juga sudah benar-benar kering. Desa Ibu telah ditinggalkan oleh semua penduduk, kecuali Ibu. Dan Ibu nampaknya tetap bertahan, untuk menunggu kedatangan saya kembali.

Begitu bertemu dengan Ibu saya sadar, bahwa Ibu sudah lama bersiap-siap untuk meninggal. Dan dia akan terus bertahan hidup, seandainya saya tidak pernah kembali. Begitu melihat saya datang, begitu pula dia tampak akan meregang nyawa. Namun, masih sempat dia mengelus-elus kepala saya.

Tepat pada saat tangan Ibu mulai mengelus-elus kepala saya, langsung saya teringat kembali cerita Ibu dahulu, ketika saya masih kecil, mengenai malaikat yang pada suatu saat pasti akan datang menghampiri siapa pun.

“Haruman, maafkanlah saya. Doa-doa saya untuk mendatangkan bidadari ternyata gagal. Sampai saatnya kamu akan meninggal, kamu tidak akan pernah didatangi bidadari. Mudah-mudahan setelah kamu meninggal nanti, bidadari akan menjemput kamu. Bidadari yang akan menjemput kamu, tidak lain adalah calon isteri kamu di sorga sana.”

Begitu ibu saya selesai mengucapkan kata-katanya, dengan mendadak mata saya menjadi pedih. Dan dengan mendadak pula, saya merasa benar-benar buta. Saya tidak bisa melihat apa pun.

“Haruman, dengarlah pengakuan dosa saya. Dahulu saya pernah memperkosa seorang laki-laki, entah siapa. Saya tertarik oleh matanya, mata yang terus berkilat, mengirimkan cahaya-cahaya indah. Mata dia jauh lebih indah daripada kelereng mainan para dewa. Malam harinya saya tertidur pulas, dan bermimpi.”

Dalam mimpi, menurut Ibu, Ibu merasakan beban dosa yang amat berat, karena dia sedang mengandung bayi tanpa ayah yang akan hidup tanpa mata. Tampaknya, ada bidadari yang merasa iba kepada Ibu. Bidadari ini segera terbang entah ke mana, dan dalam waktu singkat sudah kembali dengan membawa sepasang mata indah.

“Ketahuilah, wahai perempuan malang,” kata bidadari, “karena saya merasa amat sangat kasihan kepada kamu, dengan sangat tergesa-gesa tadi saya mencomot mata seseorang. Saya tidak tahu siapa dia. Apakah semasa masih hidup dia orang berhati mulia atau sebaliknya, saya tidak tahu. Arwah dia masih melayang-layang, belum ditentukan apakah dia akan tercebur ke neraka ataukah terangkat ke sorga. Saya hanya tahu, wahai perempuan malang, bahwa mata dia luar biasa indah. Dan karena saya sudah telanjur mencomot sepasang mata indah ini, tidak mungkin saya mengembalikan kepada pemiliknya. Ketahuilah, dia tidak akan memerlukan mata lagi. Kalau ternyata dia tercebur ke neraka, dia akan memperoleh mata baru, mata jahanam sesuai dengan kebejatan hati dan tindakan dia selama dia masih hidup. Dan kalau ternyata dia terangkat ke sorga, dia akan memperoleh sepasang mata baru yang jauh lebih indah.”

Tepat pada saat Ibu akan mendesahkan nafas terakhir dalam hidupnya, saya berkata, “Ibu, pergilah dengan damai. Sudah sejak dahulu saya memaafkan Ibu. Bidadari yang selama ini Ibu harapkan, telah datang menjemput saya.”

Saya yakin, Ibu tidak sempat mendengar kalimat saya terakhir.

Surabaya, 8 Oktober 2000

Dipetik dari kumpulan cerita ‘Fofo dan Senggring’, Grasindo, 2005, hal.115-122.

***

 

Choose Site Version
English   Indonesian