Click here for:

Bunga Krisan Merah

Indonesian literary critic and scholar Ranang Aji SP lives in the historic city Magelang, Central Java. His short stories, poetry, and essays have been published in Kompas, Jawa Pos, Koran Tempo, Media Indonesia, Republika, Dalang Publishing, and others. His works were included in the short-story anthology Cerpen Pilihan Kompas (editions 2022 and 2024).

Aji initiated the fractionation approach to fiction and theater, which refers to the technique of fracturing a narrative into non-linear pieces, vignettes, or sudden shifts in perspective, challenging the audience to piece the story together.

Aji was a finalist of the 2020 Literary Criticism Competition (Sayembara Kritik Sastra Badan Bahasa 2020) — organized by the Indonesian Language and Literature Development and Protection Center — and the 2025 HB Jassin Literary Criticism Compeition (Sayembara Kritik Sastra HB Jassin 2025), which challenges writers to produce high-quality, in-depth literary criticism in the Indonesian language. In 2025, Aji won the prestigious Jakarta Arts Council Playwriting Competition (Sayembara Naskah Teater Dewan Kesenian Jakarta), which celebrated fresh theatrical expressions, social critiques, and cultural reflections.

His short story Malam Pertobatan (The Repentance Night) was adapted into a historical drama film with the same title, by Falcon Pictures in 2024. His book, “Daya Gerak Kartografi Energi Sastra” (The Power of Literary Cartography), is scheduled for publication in 2026 by Penerbit Nyala Yogyakarta.

Aji can be reached via email: ranangajisuryaputra@gmail.com and Instagram: Ranang_Aji_SP

****

 

Bunga Krisan Merah

 

Awal Agustus, 1989

Cahaya matahari menyusup melalui dinding gedek. Cahaya pagi itu membentuk bayangan tipis bersilangan hingga tampak menyerupai jeruji kandang. Di luar, tawa anak-anak terdengar riuh bercampur dengan dengungan hiruk-pikuk pasar di kejauhan. Di halaman, bunga krisan merah tumbuh mekar. Di dalam gubuk, keheningan bertakhta dan dingin. Kesunyiannya membeku menekan oleh irama gesekan tangan Mirah yang tengah mengasah pedang pendek itu. Setiap gesekannya melunturkan noda karat berwarna coklat dan mengikis kelabunya batu asah. Tangan berurat dan berbonggolnya, yang terlihat seperti akar pohon beringin, terus bergerak dengan teratur selama beberapa menit. Setelah itu, dia menatap bilah pedang itu. Matanya yang keruh memantulkan cahaya kesedihan yang menderanya selama bertahun-tahun.

“Sudah saatnya,” gumamnya, hampir tak terdengar.

Dia bangkit perlahan. Menyampirkan selendang tua, lalu menyimpan pedang dalam peti besi. Matanya menyapu ruangan yang penuh bayang-bayang masa lalu. Di atas rak bambu, potret tua dirinya bersama Bagas, suaminya, berbingkai kayu usang, miring dan berdebu. Tangannya merapikan bingkainya, membersihkannya dengan ujung lengan kebaya lusuh. Lalu, dia duduk kembali, menghadap pintu. Segaris cahaya membentuk garis lurus di wajahnya. Angin membawa bau pasar, gorengan, dan rempah-rempah yang menyesakkan dadanya.

Di tengah keheningan, terdengar suara burung-burung prenjak bercericit dari atas atap, lalu suara itu berhenti seolah takut. Dalam dada Mirah, riuh waktu berdetak keras seperti lonceng yang tak pernah berhenti berdentang. Dia tahu hari yang dia nantikan akan segera datang. Namun, dia tidak pernah menduga bahwa pagi itu, ketika matahari membelah bayangan gedek, hatinya merasa damai untuk pertama kalinya dalam kurun waktu dua puluh empat tahun.

 

Desember, 1965

Suatu malam di bulan Desember dua puluh empat tahun yang lalu, serombongan tentara datang. Mereka datang dengan menumpang satu truk dan satu jeep. Setelah kendaraan militer mereka ditempatkan di halaman depan rumah, beberapa tentara turun dari truk dan langsung masuk ke dalam rumah yang terbuka pintunya. Bagas yang berdiri kaget dipukul mukanya oleh seorang tentara. Mirah terlihat berlari-lari dari arah dapur. Tentara yang lain menarik tangan Mirah yang mencoba memeluk suaminya. Setelah itu mereka memaksa Mirah dan Bagas keluar dari rumah. Bagas, yang sudah menyadari apa yang tengah terjadi, mencoba memohon agar dia dan istrinya dibebaskan. Namun, seorang tentara memukulnya dengan popor senapan. Bagas pun terjatuh dengan muka berdarah.

“PKI!! Gerwani!” teriak beberapa tentara. Salah seorang tentara menendang punggung Bagas dan memaksanya berdiri. “Komunis goblok!”

Setelah itu dua tentara mengikat tangan Mirah dan tangan suaminya. Mereka digiring melewati dua pohon jambu di halaman depan. Para tetangga dan teman-teman suami-istri itu berdiri diam dan ketakutan di jalan. Mirah melihat tentara yang mengawalnya mengangguk. Mereka kemudian meninggalkan suaminya di bawah pohon belimbing, beberapa meter dari pohon jambu. Mirah mulai menyadari bencana yang bakal menimpanya. Airmata mulai membasahi pipinya. Dan, mereka memang membawanya ke sebuah ladang di mana cahaya bulan menyinari rumput dengan warna perak. Dan, di situlah beberapa prajurit mencabik-cabik harga dirinya.

Esok harinya, Mirah mencari dan menemukan Bagas mati di sungai yang ada di pinggir desa. Pergelangan tangannya masih terikat dengan tali tampar. Tubuh Bagas teronggok seperti sesajen di air keruh. Matanya terbuka — meninggalkan kengerian di bola matanya. Di sampingnya pedang pendek berlumur darah tergeletak.

Mirah mengingat peristiwa malam itu dengan utuh. Bahkan dia masih ingat bagaimana rasa tanah di bibirnya saat tubuhnya ditindih bergilir beberapa tentara. Dia juga masih ingat bau keringat dan darah, dan bagaimana wajah-wajah tentara yang berdiri mengelilinginya menoleh atau menunduk. Sebagian dari mereka pura-pura tak melihat kebinatangan yang terjadi di depannya. Saat itu dia tak bisa lagi menangis. Namun, otaknya menyimpan wajah-wajah itu dalam ingatannya. Waktu tak berjalan biasa setelah itu. Tahun demi tahun, hanya musim yang berganti, tapi rasa tubuhnya, pikirannya tetap di ladang itu, di sungai itu, di malam itu. Sejak saat itu, dia seolah menjadi batu yang berjalan, bernafas tanpa benar-benar hidup, menanti sesuatu yang tak kunjung datang.

Beberapa bulan sebelumnya, ketika kabar tentang penculikan para jenderal pada malam 30 September 1965 mulai berembus dari radio, juga dari cerita para sopir truk yang singgah di warung, kebanyakan warga di desa tempat Mirah dan suaminya tinggal sebenarnya belum sepenuhnya memahami apa yang sedang terjadi di ibu kota. Orang-orang hanya mendengar kata-kata besar yang melayang seperti awan gelap: “ada kudeta,” “pengkhianatan,” “komunis.” Nama Gerakan 30 September 1965 terdengar disebut berulang-ulang. Namun, bagi orang-orang desa, peristiwa itu terasa jauh, seperti badai di kota besar yang hanya terdengar gemuruhnya dari kejauhan.

Akhirnya, gemuruh kabar itu merembes ke desa-desa. Radio pemerintah memekikkan warta bahwa para jenderal telah dibunuh dan dibuang dalam sumur tua Lubang Buaya. Di pasar, orang-orang berbisik bahwa negeri ini sedang dibersihkan dari para pengkhianat. Truk-truk tentara mulai tampak lewat di jalan tanah yang biasanya hanya dilewati pedati dan sepeda. Spanduk-spanduk muncul di pusat kota kecamatan, memperingatkan siapa saja yang dicurigai sebagai anggota Partai Komunis Indonesia atau pendukungnya. Kata “komunis” berubah menjadi semacam kutukan yang bisa menempel pada siapa saja.

Tak lama kemudian, ketakutan mulai tumbuh menjalar seperti rumput liar. Orang-orang saling memandang dengan tatapan curiga. Nama-nama perkumpulan beserta pegiatnya disebut-sebut — siapa yang pernah ikut rapat tani, siapa yang pernah membaca koran kiri, siapa yang pernah terlihat menghadiri pertemuan perkumpulan perempuan. Bahkan mereka yang tak tahu apa-apa tentang politik tiba-tiba menjadi sasaran kecurigaan yang sering diakhiri penangkapan.

Di malam-malam setelah santernya kabar pembunuhan para jenderal, deru suara truk tentara yang berhenti di ujung desa begitu sering terdengar. Lampu sorot menyapu rumah-rumah seperti mata raksasa yang mencari mangsa. Kadang seseorang dibawa pergi. Kadang beberapa orang sekaligus. Mereka diikat dengan tali atau kawat, dinaikkan ke bak truk seperti karung padi. Tidak semua kembali ke rumahnya.

Ketika kabar penangkapan mulai terdengar dari desa sebelah, Mirah ingat bagaimana Bagas pada suatu malam sempat berkata pelan sambil memberikan sekuntum bunga krisan merah, “Ini hanya soal politik kota. Tak akan sampai ke desa ini.”

Namun, badan politik kota ternyata memiliki kaki yang panjang. Kaki-kaki itu melangkah melalui jalan-jalan tanah, melalui senjata yang dipanggul tentara, dan melalui ketakutan yang ditanamkan di kepala warga. Dan, ketika akhirnya mereka sampai ke rumah Mirah pada malam Desember itu, mereka datang tidak sebagai kabar, melainkan sebagai kekerasan yang nyata — dengan sepatu berat, popor senapan, dan teriakan yang menggema di halaman rumahnya.

Sejak malam itu, Mirah tahu bahwa sejarah tidak selalu ditulis di buku. Kadang ia ditulis di tubuh manusia — di luka, di ingatan, dan di sunyi yang tidak pernah benar-benar pergi.

 

Agustus, 1989

“Mbok Mirah,” suara Fadil memanggil dari luar gubuk, terdengar ragu-ragu.

Mirah mendongak, terkejut, seolah baru saja keluar dari terowongan panjang. Dadanya sesak oleh sesuatu yang tak pernah benar-benar pergi — sejenis gema lama yang selalu kembali ketika suara dari luar memanggil namanya. Dia menatap pintu yang setengah terbuka itu seperti menatap masa lalu yang mengetuk pelan, tidak pernah benar-benar hilang, hanya menunggu dibuka lebar.

Fadil, kepala dusun, yang berdiri di ambang pintu melihatnya ragu. Pria itu tahu peristiwa mengerikan yang menimpa Mirah pada tahun 1965 dari penuturan ayahnya.

“Ada apa?” suara Mirah keluar pelan, nyaris seperti bisikan yang tertahan di tenggorokan. Di dalam dirinya, sesuatu bergetar — antara keinginan untuk menutup pintu rapat-rapat dan kelelahan untuk terus bersembunyi.

“Malam ini ada pertemuan di balai dusun,” kata Fadil. “Sekadar berkumpul untuk tirakatan malam kemerdekaan. Mbok Mirah mau ikut?”

Mata Mirah menyipit. Kata tirakatan terasa asing sekaligus menusuk — seolah malam bukan lagi ruang doa, melainkan ruang di mana bayang-bayang lama berkumpul tanpa diundang. Dia tidak berkata apa-apa. Bayang-bayang sekumpulan orang yang hanya menontonnya ketika tentara mencabik-cabik harga dirinya masih jelas di pelupuk matanya.

Fadil mendesah. Pria itu paham apa yang dirasakan Mirah, dan karena itu dia tak mencoba membujuk apalagi memaksa. “Baiklah, istirahat saja dulu,” katanya, kemudian berbalik dengan langkah ragu. Namun, kemudian dia berhenti dan berbalik, sebelum berkata dengan lembut, “Maaf, Mbok … yang terjadi itu sudah bertahun-tahun lalu. Mungkin sudah waktunya untuk melupakannya. Cobalah berdamai.”

Mirah tertawa pelan dan getir. “Melupakan? Berdamai?” katanya berbisik, seolah bicara pada dirinya sendiri. “Lantas siapa yang akan mengingat darah tak berdosa itu? Siapa yang akan mengenang jeritanku di malam hari? Siapa yang harus bertanggung jawab?”

Fadil dikurung rasa bimbang dan tak enak hati. Dia hanya diam, sebelum kemudian meninggalkan Mirah sendiri.

Setelah Fadil pergi, udara di dalam gubuk mendadak dingin. Dingin seperti liang gelap yang tiba-tiba terbuka di dalam dada Mirah. Dia duduk diam. Lama. Matanya menatap pintu yang baru saja ditutupnya. Dia tahu pria itu tak akan mengusiknya malam ini. Namun, suara kepala dusun itu tetap tinggal di dalam benaknya. “Mungkin sudah waktunya melupakannya.” Melupakan. Kata itu seperti paku. Menancap. Tangannya perlahan bergerak, membuka laci kecil di bawah dipan bambu. Dari sana, dia mengeluarkan sebuah amplop tua. Warnanya coklat pudar, sudutnya mengelupas. Tanganya membukanya dengan hati-hati, lalu mengeluarkan selembar foto hitam putih yang telah bernoda. Dalam foto buram itu, terlihat Bagas duduk di beranda rumah lama, rumah tempat tinggalnya dulu. Tangannya memegang biola yang tak pernah selesai dia pelajari cara memainkannya. Di sampingnya, Mirah muda. Senyum mereka kecil, tapi utuh. Tak ada tanda-tanda bahwa hanya sebulan setelah foto itu diambil dan dicetak oleh tukang foto di kota, tanah di bawah mereka akan dipenuhi darah.

Tangan Mirah mengusap wajah Bagas pada foto itu, lalu menatap langit-langit bambu. Bayangan tubuh Bagas tergantung di benaknya, tak pernah hilang. Tak pernah ingin dia melupakan. Semua hal bisa dilupakan, tapi dia ingin mengingat Bagas dan peristiwa itu sampai urat nadinya berhenti berdenyut. Sampai di sana, matanya berkilat. Bagas bukan PKI, dan bukan pula dirinya. Bagas hanya belajar bermain biola. Bila pun benar Bagas anggota PKI, tentara itu tak berhak membunuhnya. Mirah berdiri.

Dari bawah tikar, Mirah tarik kain goni yang selama ini menjadi alas tidurnya. Lalu sekali lagi dia menarik peti besi itu, dan membuka kembali peti itu dengan kunci kecil yang tergantung di balik sanggulnya. Diambilnya pedang yang sudah dia asah. Sebilah tanto, pedang pendek, peninggalan tentara zaman dulu yang digunakan dalam pembantaian suaminya. Kain merah yang membungkus pedang itu telah lapuk, tapi simpulnya tetap kokoh. Seperti simpul kenangan kelam pada dirinya yang tak pernah dilepaskan, tak pernah diurai.

Mirah menarik tantonya perlahan. Menghunus bilah itu. Menatapnya. Dulu dia selalu takut menyentuhnya. Sekarang, tangannya mantap, lalu dia mencoba mengayunkan tanto itu di udara. Gerakannya pelan, seperti menulis huruf-huruf dendam di langit.

Meski pelan setiap gerak tangan Mirah menyimpan jejak dendam, seolah dia dikurung oleh bayangan masa lalu: suara popor senapan, jeritan Bagas, tatapan kosong para tetangga yang berpura-pura tidak melihat saat dia diseret melewati pekarangan. Dia tahu, salah seorang tentara yang mendatangi rumahnya malam itu adalah tetangganya.

Mungkin tentara itu tidak menyentuh Mirah atau membunuh suaminya, tetapi tetap saja tetangganya itu adalah bagian dari dendamnya. Bagi Mirah, seragam dan tugasnya sebagai tentara sudah cukup untuk menjadikannya bagian dari luka yang sama. Mira bergumam, “Kalau malam ini aku berjalan ke tengah tirakatan itu dengan menggenggam pedang ini… apa mereka masih akan ingat peristiwa itu?”

Tangan Mirah pelan membuka jendela. Bau pasar masih terasa menggantung dalam dadanya. Hanya kini ditambah suara gamelan yang terdengar samar dari arah balai dusun. Tanda malam tirakatan telah dimulai. Dengan sapuan halus, matanya bergerak dan kemudian menatap bulan di langit. Purnama nyaris penuh. Sama seperti malam ketika Bagas dilempar ke sungai dangkal. Beberapa saat kemudian, dia menutup jendela. Langkahnya berat, tapi pasti. Malam ini, dia bertekad, hanya akan menjadi malam milik orang sepertinya, orang yang tak pernah diberi tempat untuk menyuarakan keadilan. Malam ini dia ingin semua orang tahu bahwa dendamnya akan dia tuntaskan.

Mirah lalu berjalan ke pojok ruangan, membuka lemari tua, dan mengeluarkan sehelai kebaya putih dengan renda lusuh. Jarinya menyentuh tiap tambalan seperti membaca aksara luka. Dia bertekad malam itu harus menjadi miliknya. Bukan malam milik negara yang merdeka yang menyia-nyiakannya, tapi malam Bagas. Malam dirinya.

 

Malam, 17 Agustus 1989

Halaman balai dusun sudah ramai dengan obor-obor yang tampak berkelap-kelip dari kejauhan. Warga desa, tua dan muda, berkumpul untuk mendengarkan pidato tokoh masyarakat dan menyanyikan lagu-lagu kepahlawanan. Sekelompok anak remaja tampak mementaskan sandiwara kemerdekaan. Suara mereka terdengar bersemangat dan penuh harapan.

Mirah datang. Sebelum memasuki halaman penuh kerumunan orang itu, dia berhenti melangkah dan berdiri sejenak seperti patung. Bayangannya tampak jelas di balik cahaya api obor. Beberapa orang memperhatikannya — merasa asing karena tak pernah melihatnya hadir dalam acara-acara seperti ini. Fadil, satu-satunya orang di situ yang langsung mengenali sosok Mira, berdiri dan menghadap ke arahnya.

Mirah mulai melangkah perlahan tapi pasti menuju ke tengah halaman. Tangannya menggenggam tanto yang dibungkus kain merah. Saat itu dia merasa nyaman mengenakan kebaya masa lalunya — kebaya putih yang kini pudar dan penuh tambalan.

“Mbok Mirah?” Fadil melangkah maju menyambut. Raut mukanya terlihat senang.

Mirah hanya diam. Tak menghiraukan sambutan itu. Langkahnya berhenti di tengah kerumunan. Dengan perlahan dia membuka buntalan pedang tantonya. Orang-orang kaget dan terdiam seolah tersihir oleh teka teki yang tak mereka pahami.

“Ini …,” meski serak, suara Mirah terdengar jelas dan keras. “Pedang ini yang membunuh suamiku. Aku menyimpannya selama bertahun-tahun, menunggu orang datang membawa keadilan. Tapi tak ada yang datang.”

Udara malam tiba-tiba menjadi beku. Semua orang terdiam dan hanya tertegun memperhatikan.

“Tapi malam ini,” lanjut Mirah sambil mengangkat pedangnya, “aku akan membebaskan diriku dari dendam. Itu yang kalian minta, kan? Baik, aku akan melupakan dan menuntaskan dendamku!”

Orang-orang berguman, saling bertanya apa yang diinginkan Mirah. Mulut Fadil terbuka ingin berucap sesuatu. Namun, sebelum dia dan orang-orang sadar apa yang terjadi, Mirah dengan cepat menusukkan pedang ke ulu hatinya sendiri. Orang-orang menjerit ngeri, kaget dengan apa yang mereka lihat. Fadil yang baru terlepas dari keterkejutannya mencoba menangkap tubuh tua Mirah yang meliuk. Namun terlambat. Tubuh Mirah tumbang ke tanah. Fadil memeluk dan menatap prihatin wajah Mirah yang pucat. Lalu, setelah lembut menutup kelopak mata Mirah, dia mencabut pedang itu perlahan dari tubuh perempuan tua itu. Bilah pedangnya basah berkilau memantulkan cahaya obor.

Esok paginya, setelah acara penguburan, orang-orang menabur bunga krisan merah di atas tanah berdarah — tanah halaman tempat tirakatan kemerdekaan senantiasa dilangsungkan.

*****

Choose Site Version
English   Indonesian