Click here for:

Selendang Bersulam Putih

“Nah ini dia!” seru Zubaedah sambil menjangkau dan mengeluarkan sebuah selendang yang tersuruk di antara lipatan-lipatan kain dalam lemari pakaian. Selendang tersebut tampak kusam dan terlihat beberapa noda di berbagai tempat ketika Zubaedah membentangkannya di bawah lampu kamarnya.

Kemarin siang, surat kemenakannya dari Bukittinggi mengusik hatinya. Biasanya kemenakannya hanya menyampaikan kabar keadaan rumah di Bukittinggi yang dipercayakan kepadanya sejak Zubaedah pindah ke Jakarta ini untuk tinggal bersama Syahrul, anaknya. Tetapi, surat kemarin itu juga mengabarkan tentang berpulangnya ke rahmatullah Mande Siti Manggopoh tanggal 20 Agustus 1965, tiga minggu yang lalu.  Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Terkesiap Zubaedah membacanya.

Sudah lebih limapuluh tahun nama Mande Siti tidak pernah lagi terdengar dan tersebut oleh Zubaedah. Dalam ingatannya, sosok Mande Siti adalah saat terakhir beliau meninggalkan Zubaedah di suatu malam gelap di tahun 1908. Walaupun demikian beliau selalu ada dalam hati dan doa Zubaedah.

Sekarang, air mata tak terbendung lagi mengalir di pipinya. Diamatinya selendang putih yang telah menguning termakan usia ditangannya, sulaman benang putih dengan corak sederhana masih terlihat jelas di sekelilingnya. Disampirkannya selendang tersebut di pundaknya dan sambil terduduk di pinggiran tempat tidur, Zubaedah teringat kembali bagaimana selendang itu diperolehnya atau lebih tepatnya diambilnya. Selendang Mande Siti yang tidak pernah sempat dikembalikannya kepada si empunya.

“Mak, Mak,” ketukan di pintu kamar mengalihkan lamunan Zubaedah. Yuni, menantunya, muncul di pintu dengan wajah tersenyum dan berkata, “Batang pakisnya ketemu di pasar nih.”

Sebelum Yuni sempat bertanya tentang mata sembab ibu mertuanya, Zubaedah buru-buru bangkit. Sambil menyusut air mata di pipi dengan ujung selendang ia berkata,”Mudah-mudahan bumbu dan kelapa kau beli juga Yun.”

“Iya, lengkap, Mak, cabai merah, bawang merah, bawang putih, lengkuas, jahe, kunyit, sereh, juga daun salam. Kelapa, saya minta langsung diparutkan di pasar.”

“Senang sekali hati Amak ada yang menjual batang paku di Jakarta ini,” sambung Zubaedah. Sambil mengikuti Yuni ke dapur, ia meletakkan selendang di sandaran kursi di meja makan.

Yuni selalu tertawa geli setiap mendengar ibu mertuanya tetap menggunakan istilah bahasa Minang, paku, untuk pakis yang baru dibelinya. Dia teringat guyonan ibunya sendiri yang tinggal di Surabaya, yang pasti akan berkata, “Sejak menikah dengan orang seberang, kamu menjadi sakti ya, karena pakupun sekarang bisa dimakan.”

Di dapur, Zubaedah langsung membersihkan daun pakis. Satu per satu batang pakis diusap dan dibersihkan dan dialiri air keran yang mengucur.

Ketika jari-jarinya membersihkan pucuk pakis yang berpilin dan duri-duri lunak pucuk itu menyentuh kulitnya, ingatan membawanya kembali pada saat lebih dari limapuluh tahun yang lalu ketika Zubaedah remaja membersihkan batang paku di pancuran di dekat rumah ladang di tengah hutan. Batang paku itu hanya direbus dan dimakan dengan nasi seadanya atau ubi yang diambil dari ladang.

“Mak, berapa banyak lengkuasnya?” tanya Yuni sambil menyodorkan lengkuas dan menyentakkan Zubaedah untuk kembali ke batang paku yang dibersihkannya.

“Ya sebentar, biar Amak tiriskan paku ini dulu,” jawab Zubaedah sambil meletakkan batang paku yang sudah bersih ke dalam tirisan. Kemudian dia mengambil pisau dan memotong lengkuas sambil berkata,”Seruas jari lengkuas, seruas jahe, seruas kunyit.”

“Seruas jari siapa, Mak?” tanya Yuni sambil tersenyum.

“Seruas jari yang memasaknya, Yuni,” jawab Zubaedah.

“Kalau begitu, kalau orang yang masaknya tinggi langsing rasa masakannya beda ya Mak dengan yang pendek gemuk, kan ukuran jarinya berbeda,” Yuni memang tidak pernah mahir kalau mengikuti takaran kira-kira Zubaedah.

“Ah, kau ada-ada saja Yuni,” Zubaedah tertawa. “Ukuran seruas jari itu kan hanya perkiraan kasar, selebihnya gunakanlah hati dan perasaanmu, dijamin apapun yang kau masak akan lezat,” jelas Zubaedah.

“Nah, sekarang kau kupaslah bawang merah dan bawang putih dan potong-potonglah cabai merah ini,” lanjut Zubaedah.

Sementara Yuni melakukan yang diminta Zubaedah, dia menyempatkan bertanya,”Kenapa Amak tadi menangis di kamar?”

Zubaedah terdiam dan memandang Yuni. Alangkah bersyukurnya bahwa Syahrul, anak tunggalnya, menikahi Yuni. Anak yang baik dan penuh perhatian, tidak saja terhadap suami dan anak-anaknya, tetapi juga terhadap ibu mertuanya. Setelah suaminya meninggal tiga tahun yang lalu, dan kesehatannya juga sudah menurun, Syahrul mengajaknya tinggal bersamanya di Jakarta. Meski awalnya Zubaedah berkeberatan meninggalkan rumah peninggalan suaminya di Bukittinggi, tetapi Syahrul memaksa dengan alasan biar dia juga tenang kalau ibunya berada di dekat dia dan keluarga.

“Amak teringat Mande Siti. Kau tahu, waktu Amak bersama Mande Siti di hutan dekat Manggopoh, batang paku inilah yang selalu Amak cari di sekitar ladang di hutan untuk jadi makanan sehari-hari, cuma inilah yang dapat kami peroleh.”

“Kenapa Amak tinggal di hutan dan siapa Mande Siti itu?” Yuni terkejut karena tidak mengira ibu mertuanya pernah tinggal di hutan dan Yuni juga tidak ingat suaminya pernah bercerita tentang itu.

Zubaedah kemudian bercerita, “Mande Siti itu sepupu jauh dari orangtua Amak. Meskipun umurnya masih muda, di tahun 1908 itu beliau belum berumur tigapuluh tahun, tapi dipanggil Mande oleh semua orang. Suaminya Bagindo Rasyid, dan anak perempuannya Dalima masih menyusu waktu itu.

“Mande Siti adalah perempuan pintar dan tangguh. Sejak kecil sudah pandai bapasambahan, yaitu bicara berpantun yang indah sekali, mengaji dan bahkan jago bersilat. Tidak banyak perempuan Minang yang pintar dan seberani beliau waktu itu.

“Bagindo Rasyid adalah pendekar juga dan Mande Siti juga ikut membantu kegiatan Bagindo. Suatu malam di bulan Juni tahun 1908, Mande Siti, Bagindo Rasyid dan beberapa orang di kampung Manggopoh menyerang Belanda di bentengnya.

“Amak ingat benar karena itu tidak lama setelah orangtua perempuan Amak meninggal. Banyak Belanda mati malam itu. Tapi ternyata ada dua orang Belanda yang sempat lolos dan mereka lari menyelamatkan diri dan melapor ke Bukittinggi. Kabarnya Mande Siti terluka dari serbuan itu. Dan mereka, Mande Siti, Bagindo Rasyid dan orang-orangnya lari dan sembunyi ke hutan di luar Manggopoh.”  Zubaedah menarik nafas. Sementara matanya mengawang jauh.

“Segini cukup ya, Mak,” Yuni memperlihatkan potongan bawang merah, bawang putih, dan cabai.

“Ya, cukup, letakkan di sini.” Zubaedah kembali dengan masakannya dan meneruskan, “Amak akan menggiling cabai dan bumbu ini, sementara itu kau peraslah santan. Tolong ambilkan Amak batu lado ya Yun.”

Yuni mengambil cobek dan ulekan yang dimaksud Zubaedah dan meletakkannya di atas meja pendek yang mudah dijangkau. Ibu mertuanya sengaja bersusah payah memboyong batu lado itu dari kampung ketika pindah untuk ikut tinggal dengan Yuni dan Syahrul di Jakarta. Katanya beliau tidak biasa menggunakan cobek dan ulekan Yuni. Kata Zubaedah bumbu yang digiling dan digerus di batu lado ini akan mengeluarkan rasa dan wangi yang lebih lezat. Makanya ibu mertuanya tidak mau menggunakan yang lain selain batu lado itu.

“Kemudian, bagaimana Amak bisa tinggal di hutan dengan Mande Siti,” Yuni teringat kembali akan cerita ibu mertuanya.

“Sejak orangtua Amak meninggal, Amak tinggal di tempat Mamak Maran, kakak laki-laki dari orangtua perempuan Amak. Mande Siti sering datang berkunjung ke rumah Mamak Maran menghibur Amak waktu itu.” cerita Zubaedah. “Waktu itu, pertengahan tahun 1908 itu, di Manggopoh keadaan juga bergolak. Orang-orang sedang ramai membicarakan belasting yang baru diterapkan Belanda. Masa si Belanda meminta pajak untuk tanah-tanah pusaka di kampung. Hebohlah orang kampung waktu itu. Tanah itu bukan tanahnya orang Belanda, tapi tanah turun temurun kaum orang Minang.” Zubaedah menggelengkan kepalanya.

“Apakah santannya sudah cukup, Mak?” Yuni memperlihatkan hasil perasannya ke Zubaedah.

“Oh ya, sudah, sudah cukup. Ini juga bumbu cabainya sudah halus. Nah, sekarang kau jerangkanlah santan ini dan rebus dengan bumbu, daun serai dan daun salam ini,” kata Zubaedah. “Selama santan dijerang, jangan lupa mengaduk-ngaduknya supaya tidak pecah santan nanti. Setelah santan bergolak, baru kau masukan batang paku yang sudah ditiriskan ini,” lanjut Zubaedah lagi.

Yuni segera mengeluarkan panci dari lemari dapur dan menghidupkan kompor.

Sementara Zubaedah melanjutkan ceritanya. “Hingga suatu hari, di pertengahan bulan Juni tahun 1908, Amak mendengar dari orang-orang kampung, ada pertentangan antara ninik mamak, tetua kampung, dengan orang Belanda di Kamang. Kemudian juga orang kampung di Kamang menyerbu benteng Belanda, tentu saja Belanda marah. Dan kemudian Amak dengar pula Bagindo Rasyid, yang dekat dan sering bertukar pikiran dengan ninik mamak, ikut dalam penyerbuan itu. Memang beberapa hari kemudian, Bagindo Rasyid pulang ke Manggopoh sembunyi-sembunyi dan tidak pernah keluar siang hari, menghindari kejaran Belanda katanya.”

“Mak, sudah mendidih santannya. Pakisnya boleh dimasukkan ya,” sela Yuni sambil mengaduk-aduk panci di atas kompor. Uap dari panci yang berisi santan berbumbu memenuhi dapur. Bau harumnya menerbitkan selera.

Zubaedah mendekat dan melihat ke dalam panci dan berkata,”Ya, sudah siap ini, biar Amak yang ambilkan pakunya.” Setelah batang paku dimasukkan ke panci, Zubaedah memperingatkan Yuni, “Jangan aduk terlalu keras supaya pakunya tidak hancur. Dan kalau sudah matang semuanya, matikan kompor, tutup panci, dan diamkan sebentar supaya bumbunya meresap dan tidak terlalu panas untuk dimakan.”

Zubaedah kemudian bersiap membereskan dan menata meja makan.

Tidak lama kemudian, Yuni datang dengan membawa semangkok gulai paku, secambung nasi hangat, kerupuk jangek, kerupuk dari kulit sapi yang dikirim dari kampung untuk Zubaedah, dan dua potong ayam goreng.

“Marilah kita makan dulu, Mak. Gulai pakisnya sudah siap,” ajak Yuni ke Zubaedah.

“Tidak menunggu si Syahrul dulu?” tanya Zubaedah.

Uda Syahrul makan siang di kantor, ada rapat lagi hari ini katanya,” jelas Yuni menggunakan kata Minang untuk menyebut suaminya dan menyambung, “Anak-anak sudah dibuatkan ayam goreng juga untuk mereka pulang sekolah nanti. Biar ini untuk kita saja Mak.”

Ketika Zubaedah duduk di meja, Yuni segera menyendokkan nasi ke piringnya. Untuk lauknya Zubaedah hanya memilih gulai paku dengan banyak kuah. Gurih santan yang dipadu dengan bumbu yang pas takarannya, tidak terlalu asin dan tidak terlalu pedas, membuat lidah Zubaedah bergoyang. Ditambah dengan kerupuk jangek yang ketika dicampurkan ke dalam kuah mengeluarkan bunyi mendesis sebelum menyusut bentuk dan ukurannya. Untuk sesaat Zubaedah merasakan kerinduannya terhadap gulai paku terbayar sudah.

Di Bukittinggi, gulai paku biasanya dimakan dengan ketupat sebagai sarapan pagi. Disajikan dengan berbagai macam kerupuk, kerupuk jangek, kerupuk singkong atau kerupuk merah biasanya. Kerupuk kampung. Biasanya teh tawar hangat sebagai minumnya.

“Enak ya, Mak,” kata Yuni sambil tersenyum dan menyuap nasinya.

“Iya, Yun, enak sekali. Terima kasih sekali Amak ke Yuni.”

“Jadi bagaimana cerita Bagindo Rasyid yang katanya lari dari Kamang tadi, Mak?” tanya Yuni setelah mereka selesai makan dan Zubaedah membantu Yuni memindahkan piring bekas makan ke dapur.

“Setelah pulang ke Manggopoh, Bagindo Rasyid sepertinya diam-diam bersama ninik mamak kampung menggalang kekuatan lainnya untuk melawan belasting Belanda itu di Manggopoh. Mande Siti diajak serta atau lebih mungkin Mande yang ingin ikut sendiri. Itulah kejadian Mande Siti ikut serta di penyerbuan benteng Belanda itu,” Zubaedah melanjutkan ceritanya ketika mereka kembali duduk di meja makan.

“Kapan Amak jadinya ikut Mande Siti di hutan?” tanya Yuni.

Zubaedah memandang selendang Mande Siti yang sengaja diletakkannya di sandaran kursi di sebelah kursinya sendiri. Sekilas Zubaedah mengusap selendang dan melanjutkan, “Amak masih teringat bagaimana terkejutnya Mande Siti ketika Amak berhasil menemukannya di rumah ladang di hutan pertama kali” Zubaedah tenggelam dalam ingatan sejenak sebelum meneruskan ceritanya.

“Mande Siti sedang mondar mandir di teduhan pohon cempedak. Dalima terlihat dibawanya di dalam kain gendongan. Begitu beliau melihat Amak, beliau berteriak, ‘Edah?! Apa yang kau kerjakan di sini?’ Sambil meraih lengan Amak, Mande lanjut bertubi-tubi, ‘Bagaimana kau sampai ke sini?’ Sementara itu Dalima merengek-rengek dalam gendongannya.

“Mande terlihat lelah dengan mata yang sayu dan selendang di kepalanya tidak beraturan seperti asal menutup kepala saja, kusut masai. Dalima juga seperti tidak nyaman, merengek-rengek dan mukanya memerah karena menangis.

“Amak berusaha membujuk Dalima menenangkan tangisnya. Tiba-tiba Dalima mengulurkan kedua tangannya minta digendong Amak, dan Mande Siti melepaskannya.

“Mande kemudian mengajak Amak masuk ke dalam rumah dan setelah menyediakan segelas minum yang buat Amak benar-benar menjadi pelepas haus, Amak menceritakan apa yang terjadi ke Mande Siti.

“‘Mak Maran mengenalkan ambo dengan si Burhan, kemenakannya yang masih saudara jauh Tek Banun, istrinya. Kalau ambo mau menikah dengan si Burhan, maka tanah warisan amak ambo akan aman di tangan keluarga.’ Amak langsung menceritakan apa yang ada di kepala waktu itu.

“‘Baru sebulan Amak kau meninggal, si Maran sudah panjang pikirannya ke urusan tanah segala ya,’ kata Mande. ‘Biarpun tanah masih di tangan keluarga besar, tapi dengan si Belanda yang seperti tukang palak, siapa yang akan membayar belastingnya. Sanggup kau?’

“‘Tidak taulah, Mande, kalau urusan itu. Ambo belum berpikir sejauh itu. Yang ambo rusuhkan adalah si Burhan itu. Ambo belum mau kawin, Mande. Tapi ambo sadar tidak punya pilihan. Ambo berutang budi ke Mak Maran. Sepeninggal amak ambo, beliau sekeluargalah yang membantu ambo.’

“‘Ya, kau sudah gadis, umur sudah tujuh belas kan? Sudah pantaslah dikawinkan,’ kata Mande Siti.

“‘Tapi tidaklah Mande. Untuk menghindari si Burhan dan Mak Maran, ambo sudah berencana mau ke Bukittinggi saja. Tapi sebelum sempat berangkat, kampung kita keburu di bakar Belanda, Mande. Tidak tahu mau kemana ambo. Banyak sekali tentara Belanda waktu itu. Katanya semua pasukan dari Agam dan Pariaman juga datang menyerbu Manggopoh waktu itu. Juga mereka yang dari Kamang.’

“‘Bagaimana cara kau lari dari Manggopoh waktu itu dan bagaimana kau tau Mande di sini?’ sela Mande Siti.

“‘Ambo sedang di jalan pulang dari parak waktu itu. Cerita tentang Mande dan Bagindo Rasyid malam itu di benteng Belanda sudah jadi cerita orang kampung sejak pagi. Ramai cerita di lapau dan setiap orang sudah berwanti-wanti bahwa pasti akan ada balasan dari Belanda ke Manggopoh. Mereka sudah siap dengan belati dan pisau masing-masing di pinggang.

“‘Sewaktu sudah dekat kampung, ambo mendengar teriakan-teriakan dan melihat asap pekat mengebul, kemudian orang-orang berlarian ke segala arah. Ambo terkejut. Ambo mencoba lari ke rumah. Tapi kampung seperti sudah terkepung api. Belanda membakar Manggopoh, Mande. Akhirnya ambo ikut lari mengikuti orang yang paling banyak.’

“Muka Mande berubah menjadi sangat prihatin sewaktu mendengar cerita amukan Belanda.

“‘Bagaimana kau sampai ke sini?’ tanya Mande.

“‘Ambo lari sampai ke tepi hutan. Orang-orang yang ambo ikuti mulai berpencar. Katanya supaya Belanda bingung, lagipula Belanda tidak tau daerah hutan ini. Ambo juga mendengar Mande dan Bagindo Rasyid menghilang ke hutan, meski ambo tidak terlalu jelas ke bagian mana. Jadi waktu itu ambo bergabung dengan Mak Munah dan dua orang lain. Ambo tau Mande bersaudara dengan Mak Munah, jadi ambo kira Mak Munah tau dimana Mande berada. Begitulah, setelah dua hari di hutan, ambo sampai di sini dengan Mak Munah. Ijinkanlah ambo sementara ikut Mande. Ambo bisa bantu menjaga Dalima.’

“‘Kerjaan bahaya yang kau lakukan mencariku, Edah! Tapi apa boleh buat, kau sudah di sini. Tidak ada jalan lain selain kau tinggal di sini. Tapi di sini juga tidak selalu aman, kita harus selalu waspada. Sewaktu-waktu Belanda bisa muncul, aku juga mendengar mereka sudah mengerahkan pasukan dari seluruh nagari.’”

Zubaedah berhenti sejenak dan sambil menghela napas kembali mengusap-usap selendang putih di sandaran kursi. Selendang itu yang selalu disimpannya baik-baik. Dia mengira masih akan bertemu dengan Mande Siti dan bisa mengembalikannya. Tidak pernah terbayangkan olehnya selendang itulah yang akhirnya menjadi pengganti Mande Siti di hidupnya.

Zubaedah kemudian melanjutkan, “Begitulah, Amak tinggal di rumah ladang dengan Mande Siti. Ada beberapa perempuan kira-kira seumuran Mande dan laki-laki berbadan tegap seperti pendekar yang juga ikut tinggal waktu itu. Katanya mereka adalah orang-orang yang membantu perjuangan Mande Siti dan Bagindo Rasyid.

“Kalau siang hari Bagindo Rasyid dan beberapa orang pria berkelewang berjaga-jaga di sekitar pinggiran hutan. Sementara Mande Siti dan Amak dengan beberapa wanita lainnya berjaga-jaga di tempat kami tinggal, rumah ladang yang ditinggalkan penghuninya entah kenapa. Untuk memasak kami mengumpulkan kayu bakar di sekitar rumah, ada tungku di rumah itu. Karena tidak membawa banyak perbekalan, kami mencari apa saja yang bisa dimakan di sekitar hutan.

“Beruntung ada pohon cempedak yang buahnya mulai ranum di dekat rumah dan agak jauh ke dalam hutan, banyak tumbuhan paku yang bisa dimasak. Kami memasak apa adanya karena tidak banyak bahan dan bumbu yang bisa diperoleh. Untuk minum, ada mata air di sungai yang tidak jauh dari rumah.

“Malam hari kami berkumpul di dalam rumah dengan api penerangan sekedarnya untuk menjaga rumah dan tempat persembunyian tidak terlalu menarik perhatian dari luar. Bagindo Rasyid mendengar bahwa setelah kampung Manggopoh dibakar dan karena Belanda tidak menemukan dirinya dan Siti, mereka kemudian mengerahkan pasukan lengkap dan menyusuri setiap tempat dan mulai merapatkan pencarian ke daerah pinggiran hutan.

“Amak sehari-hari membantu Mande Siti memasak dan menjaga Dalima yang waktu itu baru belajar berjalan. Kasihan si Dalima terpaksa ikut merasakan susahnya hidup di pelarian dan di tengah hutan umur segitu.

“Selama di hutan Mande Siti masih rajin mengaji dan mengajarkan Al Quran ke kami. Sesekali beliau juga mengajarkan jurus-jurus silat sederhana dan mendasar untuk pertahanan diri. Memang Mande Siti terkenal sebagai jago silat sejak gadisnya.

“Waktu hari kesepuluh Amak di hutan dengan Mande, tiba-tiba malam-malam dua orang Bagindo Rasyid tergesa-gesa mendatangi Bagindo. Mereka mengabarkan telah melihat sekelompok Belanda mulai memasuki hutan.

“Segera setelah itu, Bagindo Rasyid memerintahkan semua yang berada di rumah dan yang berjaga di luar untuk berkemas. Amak menggendong dan menenangkan Dalima yang mulai menangis melihat orang-orang yang sibuk berlalu lalang, sementara Mande mengumpulkan barang-barang penting yang bisa dibawa. Bagindo Rasyid dan para pria berkumpul dalam lingkaran di luar rumah dan bergumam sesama mereka.

“Mande Siti melarang Amak ikut dengannya. Dalima diambilnya dari gendongan Amak lalu beliau berkata, ‘Kau, Edah, kau pergi ke hilir sungai, menyebranglah dan langsung keluar dari sini. Jangan membantah. Kau ikuti Mak Munah dan lainnya.’

“Malam itu Amak melihat Mande bergabung dengan Bagindo Rasyid dan lainnya meninggalkan rumah ladang. Dalima digendong Bagindo Rasyid, Mande di sampingnya.  Mereka diikuti beberapa pria yang membawa obor. Saat itulah Amak melihat selendang putih Mande Siti tercecer di dalam rumah. Amak kemudian mengambilnya.

“Itulah terakhir kali Amak melihat Mande Siti. Amak mengikuti perintah Mande. Setelah keluar dari hutan, Amak pergi ke Bukittinggi dan kemudian tinggal dengan adik dari Apak dan keluarganya. Tidak lama kemudian, Amak bertemu dan menikah dengan ayahnya Syahrul. Kami menetap di Bukittinggi seterusnya.”

Zubaedah mengambil selendang bersulam putih dari sandaran kursi dan menghapus air matanya dengan sudutnya.

“Minumlah dulu, Mak,” kata Yuni sambil menyodorkan segelas air putih.

Zubaedah meneguk air putih. “Batang paku itulah yang menjadi makanan sehari-hari waktu itu,” katanya seperti bergumam. Zubaedah bangkit. Sambil menyampirkan selendang putih yang sudah menguning itu ke pundaknya ia berkata, “Amak mau sembahyang dulu. Sembahyang untuk Mande Siti.”

***

Choose Site Version
English   Indonesian