Click here for:

Ketuk Lumpang

Muna Masyari was born in Pamekasan, Madura, East Java, on December 26, 1985. Her story Kasur Tanah was awarded by Kompas as the best short story in 2017. Her stories have been published in several anthologies: Munajat Sesayat Doa (2011), Rumah Air (2011), Lafaz Cinta di Ambang Gerhana (2011), Tanah Air (2016), and Kasur Tanah (2017), as well as in newspapers: Harian Kompas, Jawa Pos, Tempo, Media Indonesia, Horison, Republika, Suara Mendeka, Jurnal Nasional, Femina, Nova, Pikiran Rakyat, and Sinar Harapan. Her latest story collection is Martabat Kematian (Sulur Pustaka, 2019).

She can be reached at masyarimuna@gmail.com.

Copyright ©2019 by Muna Masyari. Published with permission from the author. Translation copyright ©2019 by Rintani Atmodi.

 

Ketuk Lumpang

Bibir Arsap menyungging seolah mengejek. Matanya tak lepas menatap orang-orang yang menyaksikan Marinten mengetukkan alu ke bibir lumpang. Sakit hati Arsap terobati sudah. Bara di dadanya padam tersiram.

Bulan alis mengintip dari balik pelepah janur. Petromaks mendesis-desis di langit beranda rumah, dikerubungi serangga. Sepasang paha sapi yang sudah dikuliti digantung sungsang di beranda dapur. Bau dupa tertindih bau satai bakar yang meruap terbawa angin.

Semula, irama ketuk lumpang yang berseiring dengan gemerincing tutup tempolong kuningan terdengar sumbang. Antara ketukan Marinten dengan lainnya tidak selaras. Bukan irama yang biasa dimainkan saat pembuatan dodol, penyembelihan sapi, panen raya maupun pada saat mengabarkan duka ketika ada yang meninggal dunia.

Ada rasa berbeda yang tercipta. Semakin didengar, menyerupai irama kabar duka, namun ketukan alu lebih halus dan patah-patah. Lain waktu, iramanya menghentak cepat. Tutup menangan bergemerincing nyaring serasa dalam semarak panen raya. Lalu melirih perlahan seperti terpagut angin.

Arsap tahu, itu bukan kesalahan semata. Pemainnya merupakan kesatuan kelompok yang diketuai Marinten, yang dikenal mahir dalam memainkan macam-macam irama ketuk lumpang. Sudah dikenal di penjuru kampung. Jika ada hajatan, orang-orang biasa mengundang mereka. Tidak mungkin Marinten keliru memimpin kawan-kawannya memainkan irama.

Marinten, selain mahir memainkan irama, perempuan itu memiliki daya pikat melebihi kawan-kawannya, dan membuat orang selalu tertarik mengundang. Dengan mengenakan sampir batik bercorak kembang cengkeh, kebaya bunga-bunga, rambut disanggul miring berhias untaian kembang melati, Marinten berhasil mencuri perhatian di setiap acara. Meskipun berdandan seadanya, Marinten tetap terlihat cantik. Sederhana namun memesona. Ada yang bilang, Marinten memiliki daya pikat yang diwariskan ibunya.

Menurut cerita orang-orang, dulu ibu Marinten juga pandai memainkan ketuk lumpang. Irama yang dimainkan mampu melepas lelah saat panen raya, menyemarakkan suasana dalam acara perkawinan maupun khitanan, dan bisa membuat orang terhanyut kesedihan saat dimainkan untuk mengabarkan duka.

Bila ada acara hajatan yang mengundang dirinya, para undangan segera datang berduyun-duyun. Bunyi ketukan alu yang beradu dengan gemerincing tempolong kuningan seolah menyihir mereka untuk segera hadir. Yang semula berhalangan, tetap mengusahakan hadir demi melihat ibu Marinten mengetukkan alu bersama kawan-kawan dalam memainkan irama ketuk lumpang.

Sama dengan Marinten, ibunya juga menjadi pusat perhatian para undangan maupun orang-orang yang hadir sekadar menonton. Banyak pemuda kampung terpikat dan terkagum-kagum pada kecantikan serta kemahiran ibu Marinten dalam memainkan ketuk lumpang. Kemampuan itulah yang ditularkan pada Marinten.

Setiap panen raya maupun musim perkawinan, Marinten dan kelompoknya tak pernah sepi undangan. Bahkan ada yang terpaksa ditolak karena waktunya berbenturan.

Akan tetapi, irama yang dimainkan Marinten sekawan malam ini sungguh berbeda. Iramanya kadang terdengar sedih, marah, lalu tiba-tiba berirama kacau sebagaimana orang yang tengah dilanda putus asa.

Sebagaimana perhatian para undangan, mata Arsap tak lepas dari sosok Marinten di halaman. Dia menikmati kacaunya irama ketuk lumpang yang dimainkan perempuan itu sebagai irama kemenangan, membayar kekalahan.

***

Malam merangkak perlahan. Ketukan alu dan gemerincing tutup tempolong kuningan semakin jelas terdengar. Bau satai bakar kian meruap. Undangan dan penonton tidak ada yang beranjak meskipun irama yang dimainkan Marinten sekawan tidak sesuai dengan acara, dan cenderung kacau. Bayi-bayi lelap dalam gendongan ibunya.

Arsap menghisap batang rokoknya dalam-dalam, lalu mengembuskan perlahan. Asap bergulung-gulung, melayang ke udara. Puntung rokok menumpuk di pinggir tatakan cangkir. Wajik dan dodol masih tersisa empat kerat di piring.

Pantang bagi lelaki direndahkan oleh perempuan! Arsap tersenyum pongah dalam hati.

Penolakan lamaran oleh ibu Marinten telah membakar hati Arsap. Ditolak tanpa alasan sungguh suatu penghinaan! Padahal dia dan Marinten sudah mengikat hati sejak keduanya menginjak remaja.

Maka, dengan darah mendidih, Arsap pun meminta pada ayahnya agar dicarikan seorang perempuan yang bersedia dinikahi secepatnya. Maksar, yang semula sudah keberatan Arsap melamar Marinten, mencari calon menantu dengan segera.

Begitu Maksar menemukan perempuan yang dirasa cocok dinikahi Arsap, mereka pun melamarnya. Sesuai kemauan Arsap, tanggal pernikahan dimusyawarahkan secepat mungkin.

Tidak lebih dari dua pekan sejak ibu Marinten menolak lamaran Arsap, tanggal baik pun ditetapkan. Arsap sengaja mengundang Marinten memainkan ketuk lumpang pada malam menjelang pernikahannya. Tentu untuk menyirami bara di hati. Untuk menunaikan penghinaan yang ditanggungkan oleh ibu Marinten.

Bunyi ketuk lumpang terus bertalu. Bau dupa yang baru dibakar sebagai ganti yang sudah mati datang menyerbu. Sebagian para ibu yang bertugas menyiapkan ragam masakan untuk undangan besok pagi masih sibuk di dapur.

Malam merangkak semakin lamban. Arsap dan ayahnya masih menemani para kerabat dan undangan di beranda. Maksar tampak bergembira dengan tawa yang kadang membahak di sela-sela obrolannya. Dodol dan wajik tinggal dua kerat. Cangkir-cangkir sudah menyisakan ampas.

Tiba-tiba Arsap melihat kemunculan Kakek Samulla di halaman dengan sebatang rokok mengepul terjepit di sela jarinya. Jalannya melambat memerhatikan Marinten dan kawan-kawan.

Mau apa lelaki tua itu, pikir Arsap. Dia menyikut lengan ayahnya. Tawa Maksar terhenti seketika, mengikuti arah pandangan Arsap. Maksar menatap Kakek Samulla dengan mata tak suka.

Langkah Kakek Samulla terhenti sebentar, mengamati Marinten yang tengah memainkan ketuk lumpang dari jarak yang cukup dekat. Tak segera naik ke beranda untuk menemui tuan rumah. Tatapannya aneh. Cara menghembuskan asap rokok perlahan dari mulutnya memberi kesan ada suatu kepahaman yang berhasil diraba.

Dada Arsap rusuh menggemuruh. Dia pernah diceritai ayahnya tentang sosok tua itu.

***

“Memalukan!” Ibu Marinten marah-marah menyambut kedatangan anaknya.

Daun pintu ditutup lagi dengan kasar. Dari tadi ibu Marinten tidak bisa memejamkan mata mendengarkan bunyi ketuk lumpang yang dimainkan Marinten di rumah Arsap.

Marinten diam. Perempuan itu nyelonong masuk, mengempaskan pantat pada kursi kayu dengan wajah layu. Dia melepas untaian kembang melati di sanggulnya.

“Bagaimana kamu bisa memainkan irama sekacau itu? Bukankah kau sudah mahir memainkan irama untuk acara perkawinan?” pertanyaan Ibu Marinten masih bernada gusar meskipun suaranya sedikit kurang jelas.

Sambil mengunyah sirih-pinang, Ibu Marinten mondar-mandir di depan anaknya. Sesekali membuang ludah pada kaleng bekas berisi abu tungku di dekat kaki lincak. Wajahnya mengeras. Bibirnya basah dan merah. Lalu mencecar Marinten lagi dengan pertanyaan-pertanyaan yang tak tuntas dia pikir sejak tadi. Kemarahan dimuntahkan.

“Kenapa pula teman-temanmu ikut bermain tak karuan? Seharusnya kalian menyelaraskan irama satu sama lain!”

Marinten tidak menyahut.

“Itu pasti gara-gara kamu! Pikiranmu ke mana-mana!”

“Bukankah Ibu yang mengajariku memainkan ketuk lumpang dengan menyatukan jiwa dan pikiran? Menghayati penuh perasaan. Dalam acara gembira, kita harus bermain dengan jiwa riang. Begitupun sebaliknya. Dengan begitu, irama yang kita mainkan akan mampu menyentuh hati siapa saja yang mendengar. Menggiring mereka pada kedalaman jiwa dan rasa yang sedang kita hayati. Bukankah begitu?”

“Betul. Lalu kenapa yang kaumainkan tadi iramanya jadi seperti itu? Seharusnya kau memainkan dengan jiwa bahagia.”

“Aku sudah memainkan ketuk lumpang dengan jiwaku. Jadi tidak ada yang perlu kusesali.”

“Kamu diundang untuk acara pernikahan, bukan kematian!” suara ibu Marinten meninggi.

Geraham Marinten bergesekan. “Apa aku harus bahagia dengan perkawinan Kak Arsap?” dia bangkit, menatap ibunya lekat-lekat, lalu menggeleng keras. “Tidak, Bu!”

“Dasar bodoh! Kau menyesal karena aku menolak lamaran Arsap?”

“Beri aku alasan, kenapa Ibu menolak lamarannya?”

“Dia tidak baik untukmu. Kau boleh menikah dengan siapa pun asal bukan dengannya!”

“Dengan siapa pun?” Senyum Marinten menyeringai mengejek, belum yakin ibunya tidak akan menjilat ludah sendiri.

“Ya! Dengan siapa pun!” ibu Marinten menegaskan.

Dagu Marinten sedikit terangkat, “Baik, kalau begitu, besok pagi aku akan ke rumah Kakek Samulla, menerima lamarannya untuk menikahiku!” Marinten meninggalkan ibunya begitu saja.

Ibu Marinten tercekat di tempat. Kunyahan pinang-sirih di mulutnya terhenti. Sekian detik matanya tak berkedip meskipun punggung Marinten sudah lenyap di balik pintu.

Sementara Marinten merebahkan tubuhnya ke lincak. Mengempaskan napas. Pikirannya mengawang. Marinten sudah tahu dengan alasan apa ibunya menolak lamaran Arsap. Antara Kakek Samulla, Maksar dan ibunya, ternyata pernah terlibat suatu persoalan.

Dulu, Maksar dan Kakek Samulla sama-sama menyukai ibu Marinten. Keduanya sering mencegat ibu Marinten di jalan ketika pulang dari undangan. Dua lelaki yang beda usia itu berebut akan melamar ibu Marinten. Namun ibu Marinten menjatuhkan hatinya pada Maksar. Selain lebih muda, lebih gagah dan tampan, Maksar juga pintar meramu kata-kata manis. Kakek Samulla yang saat itu sudah hampir berkepala empat, tidak berdaya atas pilihan ibu Marinten.

Maksar merasa memeroleh kemenangan tanpa harus berperang. Dia berniat melamar ibu Marinten secepatnya. Namun orangtua Maksar justru tidak setuju karena ibu Marinten dikabarkan memiliki susuk pemikat, dan mencarikan perempuan lain.

Kakek Samulla berang. Dia tidak terima Maksar menyia-nyiakan ibu Marinten begitu saja dengan tuduhan yang belum tentu benar adanya. Terjadi pertengkaran sengit antara mereka berdua. Hampir saja terjadi carok, adu celurit.

Marinten yakin, menolak lamaran Arsap merupakan suatu cara ibunya untuk membalik cerita masa lalu. Membayar sakit hati pada keluarga Maksar yang selama ini dipendamnya. Kalaupun dia menyuruh Marinten memenuhi undangan mereka memainkan ketuk lumpang, biar kesannya seolah tidak pernah terjadi apa-apa.

Marinten meringis. Begitu manis ibunya bersandiwara. Geraham Marinten kembali bergesekan. Tatapannya menggantung ke langit-langit kamar.

Sepulang dari undangan tadi, Kakek Samulla mencegat Marinten di jalan. Dari lelaki tua  yang belum pernah menikah hingga sekarang itulah Marinten mendengar kisah masa lalu ibunya, dan mendapatkan kesimpulan, mengapa ibunya menolak lamaran Arsap.

***

Dahi Marinten mengerut begitu membuka pintu, dia mendapatkan alu yang digunakan semalam telah patah jadi tiga dan berserakan di beranda. Buru-buru Marinten berlari ke dapur. Sepi. Mulut tungku masih dingin membisu. Marinten juga tidak melihat parang yang biasanya disandarkan pada palang kaki lincak.

Dada Marinten berdegup kencang. Kembali dia berlari ke beranda. Memungut dua patahan alu dengan hati cemas.

Kabut tipis masih bergelayut di dahan-dahan pohon kelapa. Marinten menatap jauh ke jalan.

***

Choose Site Version
English   Indonesian